Chris Cornell : No One Sings Like You Anymore

cc1

Saya “mengenal” sosok Chris Cornell sekitar tahun 2000an awal, lewat Audioslave dan Like A Stone nya. Telat memang, karena angkatan sebelum saya pasti lebih mengenal dia lewat Soundgarden.  Chris dikenal sebagai lead vokalis dari kedua band rock tersebut dan juga salah satu ‘pemrakarsa’ aliran grunge atau Seattle Sound  di tahun 90an.

Saya tidak benar-benar mengerti Chris dan musiknya sampai ketika berita tentang kematiannya membuat gempar insan musik dunia, Mei lalu. Kegemparan itu semakin menjadi-jadi ketika hasil autopsi resmi sudah dipublikasikan dan Chris dinyatakan meninggal karena bunuh diri, di kamar mandi hotelnya, tepat setelah dia menyelesaikan konser Soundgarden di Detroit.

Chris menambah deretan panjang artis dan musisi yang meninggal karena bunuh diri. Sungguh disayangkan, terutama bagi orang-orang ‘biasa’ seperti kita yang menganggap para bintang itu hidupnya sudah lebih baik. Uang banyak, popularitas, kemewahan, kurang apa lagi coba? Tetapi tampaknya memang begitulah cara kerja depresi. Mengintai diam diam, menjauh ketika ada banyak orang, menyerang ketika sendiri dan sepi datang. Dan obat-obatan penghilang rasa cemas itu layaknya koin yang mempunyai dua sisi, menyembuhkan atau mematikan.

cc2 audioslave

Chris Cornell versi rambut pendek yang pertama kali saya lihat di Audioslave

Dari berita-berita yang beredar setelah kematiannya serta tulisan-tulisan tentang profilnya, saya menyimpulkan kalau Chris ini dikenal sebagai orang yang baik, serta sahabat yang setia, terutama jika menyangkut kedekatannya dengan band Pearl Jam dan tentu saja persahabatan sejatinya dengan sang vokalis; Eddie Vedder. Dari berita-berita itu pula saya tahu kalau Chris memiliki suara 4 oktaf dan juga masuk dalam daftar-daftar seperti Rock’s Greatest Singer, Heavy Metal’s All-Time Top 100 Vocalists, Best Lead Singers of All Time dan 22 Greatest Voices in Music. Sungguh, saya telat menyadari betapa Chris ini ternyata begitu “besar”, dan saya sedih karenanya. Saya merasa trenyuh ketika melihat foto nisannya yang bertuliskan “Voice of our generation and an artist for all time”. Chris Cornell memang pantas dikenang seperti itu.

1FDA446D

And if we’re good, we’ll laid to rest anywhere we wanna go..

Satu hal lagi yang membuat saya ikut sedih nggak lain adalah kabar tentang sahabat dekatnya, Eddie Vedder yang ketika kabar duka itu terdengar, malah menghilang. Dia tidak datang untuk Chris, tidak juga datang untuk keluarga yang ditinggalkan sampai-sampai dicap tidak punya hati. Di pemakaman Chris hanya terlihat salah satu personel Pearl Jam lainnya; Jeff Ament. Tak lama setelahnya, Eddie dikabarkan terbang ke Amsterdam untuk melakukan konser solo nya, tapi, malam itupun dia nggak menyebut-nyebut soal Chris. Dia hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat publik bertanya-tanya apakah perkataannya tersebut ditujukan untuk Chris atau tidak ; “I’m thinking of a lot of people tonight. And some in particular and their families. And I just know that healing takes time, if it ever happens, it takes time, and that means you have to start somewhere so let it be music. Let it be love and togetherness, and let it be Amsterdam.” (Rolling Stone)

cced

Chris Cornell dan Eddie Vedder Muda

Saya jadi membayangkan, seandainya saya ditinggal oleh sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, mungkin saya akan jadi seperti Eddie; pergi, karena tak kuasa menahan rasa sesak dan sedih. Tidak membicarakannya karena akan membuat tambah pedih. Apalagi kalau harus mengungkapkan perasaan di depan publik, mengulangnya lagi dan lagi. Tentunya bakal jadi mimpi buruk yang nggak selesai-selesai.

Ini terbukti ketika pada awal Juni lalu di konsernya di London, Eddie, mengeluarkan pernyataan yang lagi-lagi membuat publik bertanya-tanya apakah ada kaitannya dengan Chris Karena Eddie menyebutnya sebagai “a really close friend of mine.” 

cced2

“I want to be there for the family, be there for the community, be there for my brothers in my band, certainly the brothers in his band. But these things will take time, but my friend is going to be gone forever and I will just have to … These things take time and I just want to send this out to everyone who was affected by it, and they all back home and here appreciate it so deeply, the support and the good thoughts of a man who was a … you know he wasn’t just a friend, he was someone I looked up to like my older brother.” Eddie bahkan mengaku kalau dua hari setelah berita duka itu terdengar, dia terbangun tengah malam & can’t stop the memories (baca selengkapnya di sini )

Saya sendiri juga ikut mengenang Chris Cornell lewat lagu-lagunya  yang entah kenapa, sekarang ini jadi terdengar sedih. Saya baru menyadari kalau karakter suara Chris ini tinggi, powerful, tapi juga sendu. Like A stone jadi terdengar lebih menyayat hati dibanding belasan tahun lalu ketika saya pertama kali mendengarnya. Apalagi dulu saya masih dalam tahap belajar bahasa Inggris dan sekarang saya sudah lebih paham arti liriknya. So heartbreaking, terutama pas denger lagu Black Hole Sun dan sampai di lirik “No one sings like you anymore”

cc3

Yes, No one sings like you anymore, Chris..

Image source : google

Harry Styles : Debut Album

hs

Apa yang terlintas di pikiranmu kalo denger nama boyband Inggris One Direction? Pasti 99% bakal jawab sama kayak saya : cowok-cowok ganteng 😀 . yes, One Direction memang beranggotakan cowok-cowok muda ganteng asal Inggris yang memulai karirnya dari sebuah ajang pencarian bakat. Saking ganteng-gantengnya, guyonan “dia lebih cocok jadi anggota One Direction” sering banget terdengar. Bahkan Chris Martin nya Coldplay aja sampai ngomong gitu ke bassistnya yang ganteng; Guy Berryman 😀

Continue reading

Menang Giveaway Kontes Video

Kalo boleh jujur, sekarang ini saya masih dalam keadaan belum bisa move on sepulang dari nonton konser Coldpay di Bangkok. Padahal udah sebulan lewat, tapi rasa seneng dan euforia nya belum ilang. Saya masih merasa merinding dan kepengen mewek tiap kali menonton ulang video-videonya. Saya merasa masih ada “di sana”. Gagal move on ini ikut mempengaruhi mood nulis saya. Saya sebenernya kepengen nulis tentang John Mayer sama Bruno Mars, tapi apa daya, mood itu belum datang juga. Moodnya masih tentang Mas Chris melulu. 😀

Continue reading

Nonton Konser Coldplay di Bangkok

COLDPLAY-A-HEAD-FULL-OF-DREAMS-TOUR-1200x630

Salah seorang teman yang ada di grup chat suatu kali bertanya; dari skala 1 sampai 10, seberapa besar kamu mengidolakan Coldplay? Ada yang menjawab 5, ada yang menjawab 6, tapi nggak ada yang menjawab lebih dari 7, termasuk saya. Bukan karena saya enggak mengidolakan, tetapi justru karena lagu-lagu Coldplay sudah mengalir di darah saya (tsaah), jadi, seberapa besar saya mengidolakan grup Alternative Rock dari Inggris ini, sudah nggak bisa diukur lagi. Apalagi Cuma pake skala 1-10.

Continue reading

The Search of Everything : Wave One

jm2

 

Guess who’s back, back again~

Shady’s back, tell a friend~

Eh tapi bukan, bukan Eminem yang back. John Mayer is back! Setelah album Paradise Valley yang dirilis hampir empat tahun yang lalu, akhirnya gitaris ganteng yang kita (saya ding) tunggu- tunggu kembali lagi di awal tahun 2017.

John Mayer yang juga kolektor Jam tangan dan mesin ketik ini di masa “vakum” nya tampak sibuk ikutan tur bareng band rock The Grateful Dead (Dead and Company), dan menjadi host tamu di beberapa acara seperti Late Late show dengan Ed Sheeran menjadi bintang tamu di salah satu episode nya.

Continue reading