Balada Nama Tionghoa

ini hanya sebuah cerita kecil, tentang ke tidak pahaman saya terhadap sebuah nama. khususnya nama orang2 Tionghoa. bagaimana tidak, sejak bayi sampai sebesar ini, saya dibesarkan di lingkungan etnis jawa. jadi saya terbiasa mendengar nama seseorang yang ke-jawa2-an pula. Suharyati, Suparman, Susanto, Sugiharto..dan nama2 lain yang berawalan ” Su-” banyak sekali kita temukan ya..? entah ada petuah apa dibalik awalan ” Su- ” ini… 🙂

tapi keanekaragaman ini menjadi menarik, ketika saya berada di tempat saya cari duit sekarang. Here’s the fact : mayoritas karyawan dan nasabah di tempat kerja saya adalah orang Chinese, Tionghoa.

dan satu hal yang jadi ciri khas mereka adalah nama. ya, mereka punya dua nama. versi Indonesia, dan versi Tionghoa. Engga ada masalah sih, sebetulnya, tapi keharusan untuk menyapa menggunakan nama ini menimbulkan sedikit masalah buat saya.

saya beri satu ilustrasi.
ada aturan tertentu yang tidak memperbolehkan karyawan untuk memanggil nasabah dengan panggilan ” mas “, ” mbak “, ” koh “, ” ci “, ” om “, ” tante ” dan sapaan akrab lainnya JIKA belum kenal. jadi kami harus menggunakan sapaan ” Pak ” dan ” Bu ” saja, jika belum kenal. mudah, jika nama si nasabah adalah nama Indonesia. Suci Wulandari, menjadi ” Bu Suci ” , Bambang Waluyo Jati menjadi ” Pak Bambang “, atau kita bisa memanggil nama belakangnya, nama yang lebih pendek, seperti ” Pak Jati “, ” Bu Wulan “.
bagaimana dengan nama Tionghoa ?
Khong A Long, Tan Soeng Fong, Oey Siok Lan, Jan Huey Lan…..
nah Lho…
gimana manggilnya ya ?
disebut lengkap, kepanjangan.. jadi medhot nya di bagian mananya ya ?
depan ?
jadinya ” Pak Khong A “…?
” Bu Oey Siok ?
kok wagu ya..hehe..

belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya, dan saya sempat dibuat bingung selama beberapa waktu.
Pahlawan kesiangan saya waktu itu adalah sang atasan, yang juga mempunyai dua nama. Beliau mengatakan bahwa, nama yang di depan adalah marganya. dan jika kita ingin menyapa, sebaiknya memakai dua kata yang paling belakang, biar engga kedengeran wagu.
saya pun mengerti.. jadi, saya harus menyapa ” Pak A Long “, ” Pak Soeng Fong “, ” Bu Siok Lan “,,,hmm..ya..ya..ya..

oke. satu masalah terselesaikan.
tapi gimana kita bisa tahu ya, apakah si nasabah itu laki – laki atau perempuan, jika kita hanya di sodori nama tok ?

hm..sepertinya saya harus kontak atasan saya dulu..he.he.he.

Advertisements