Victory Loves Preparation

Harga tiket bioskop memang murah. Hanya dengan membayar sekitar Rp. 20.000,- saja kita bisa menikmati satu film. Biarpun begitu, jika ternyata film yang diputar mengecewakan, rasanya saya jadi eman-eman telah mengeluarkan uang dari kantong. Setelahnya, saya bisa jadi uring – uringan seharian suntuk. Itulah mengapa saya sangat selektif dalam memilih pacar..eh..film.

The Mechanic. Judulnya  agak kurang menarik memang, tapi begitu tahu kalau yang main adalah mas Statham.. wah…saya jadi penasaran juga. Statham gituloh..😀

Baiklah..akhirnya saya pun nonton The Mechanic hari Sabtu kemarin. Agak deg – deg an juga, takut filmnya jelek.. hihi.. bukan tanpa alasan sih, soalnya film terakhir mas Statham yang saya tonton-The Expendables-luar biasa garing.

Film dibuka dengan adegan yang cukup seru, dengan lakon yang langsung muncul di awal, dan perencanaan pembunuhan yang amat rapi. membuat penonton bertanya – tanya, tentang apakah film ini sebenarnya. Ah, action ternyata. Disini Statham berperan sebagai Arthur Bishop, yang bekerja sebagai pembunuh bayaran expert yang dibayar oleh bos mafia. Bishop menyebut dirinya sebagai seorang mechanic, yang artinya, melakukan semua pekerjaan dengan terencana, rapi,dan penuh perhitungan, termasuk dalam hal membunuh orang yang menjadi target. Butuh mental baja untuk menjadi seseorang seperti Bishop, namun ketika pada akhirnya mendapat target yang adalah rekan dekatnya  sendiri, mau tak mau Bishop harus mengalami semacam dilema yang meruntuhkan mental bajanya tersebut.

Banyak hal menarik yang ada di film ini, salah satunya adalah jalan cerita. Menarik karena di tengah tengah cerita, penonton dibuat seakan bisa menebak lanjutannya, padahal bukan seperti yang dipikirkan. Kedua, action di film ini benar benar yahud, tidak membosankan sama sekali, cewek – cewek, bersiaplah terpana melihat aksi Statham yang keren.. ya teknik menembaknya, teknik beladiri, teknik berenang, ya strategi hebatnya, ya ke-sexy-an nya.. eh..😀

Tidak seperti Inception yang super duper perfect, menurut saya di film ini masih ada beberapa kekurangan. Bukan kekurangan teknis memang, tapi beberapa adegan terlihat agak ‘ mengganggu’. Sebut saja adegan perkelahian yang amat sadis.. besi yang menancap di pipi, kepala yang tertabrak mobil, penusukan berulang ulang.. semuanya tanpa sensor. Ditambah adegan ketika Steven berada dalam kamar seorang Homoseksual.. betul betul mengganggu, untung tidak terlalu vulgar. Kekurangan lain, dalam beberapa adegan si sutradara tampaknya terlalu fokus dengan action lakonnya sehingga ‘lupa’ menambahkan kesan ‘natural’ di dalamnya. Contohnya, ketika Steven-Bishop ( kok kaya nama penyanyi ya) beraksi melawan bos mafia, dengan membuat kemacetan di tengah kota dan menabrakkan banyak mobil, meledakkan bus dan membuat kekacauan… masa iya ga ada polisi yang dateng? masa iya orang – orang di sekitarnya nggak pada panik? rasanya aneh, mengingat polisi di Amerika selalu cepat datang ketika ada kekacauan… hmmm…

Ending film ini membuat saya puas..karena (lagi-lagi), penonton dibuat salah menebak. wahhh… ini baru film! Dengan cerita menarik dan aksi Statham yang yahud, maka bolehlah saya memberi nilai 9 / 10 untuk film ini.


8 responses to “Victory Loves Preparation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: