Do-it !

Anda pasti sudah sering ya mendengar kalimat ‘cintailah produk-produk Indonesia’, di tipi, di pidato-pidato, bahkan di dalam percakapan sehari-hari. Kemudian orang-orang berlomba-lomba untuk membeli produk lokal, berlomba lomba menjaga dan melestarikan. terutama untuk benda yang sifatnya historis dan atau memiliki nilai seni dan budaya yang cukup tinggi, orang berlomba lomba merawatnya. Dari mulai batik, hingga peralatan memasak, semuanya asli produk Indonesia. Dari mulai spanduk besar, hingga sticker sticker kecil, semua bertuliskan ‘ Aku cinta Indonesia’.

Bagus memang, kita jadi belajar untuk mencintai negara kita sendiri. Tapi dari sekian banyak hal, sepertinya kita lupa untuk ‘mencintai’ satu benda penting yang juga Indonesia punya; do it a.k.a uang. Khususnya uang kertas. Anda pasti tahu kan keadaan uang kertas kita seperti apa?

Sebelum saya membuat tulisan ini, saya sempat ‘berkeliling’ ke beberapa blog yang membahas tentang hal yang sama, tentang uang yang rusak, tentang hukuman atau sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku, serta hal hal yang berhubungan dengan pemusnahan UTLE ( Uang Tidak Layak Edar) atau rusak. Masalah uang rusak ini memang merupakan bahasan lama, tapi setidaknya melalui tulisan ini saya bisa (sedikit) menginformasikan kepada teman teman, uang ‘rusak’ itu yang bagaimana sih, Mbandah?😀

Pada dasarnya, ada 3 kriteria keadaan uang kertas. Yang pertama adalah Uang Baru , yaitu uang kertas yang benar benar masih licin, masih kaku, bersih, dan baru keluar dari Peruri (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia). Kedua, ULE ( Uang Layak Edar), yaitu uang yang tidak begitu baru, agak kusut sedikit, tapi masih tergolong ‘layak’ untuk diputarkan kembali ke masyarakat, dan untuk pengisian ATM. Kotor sedikit ngga papa lah, asal warna kertas aslinya masih putih. Ketiga, UTLE (Uang Tidak Layak Edar), yaitu uang yang keadaannya sudah ‘menyedihkan’. Dalam arti sudah lusuh banget, banyak coretan, dan biasanya warna kertasnya sudah menjadi kecoklatan karena kotor. yaiks..

Lalu apa yang akan dilakukan dengan ketiga kondisi uang ini? untuk kondisi baru dan ULE, uang akan kembali berputar ke masyarakat untuk dipergunakan lagi. Sedangkan untuk UTLE, uang akan dikumpulkan ke Bank Indonesia, untuk kemudian.. dimusnahkan..sayang banget ya? sementara keadaan Uang di negara kita ini lebih banyak UTLE nya lho daripada ULE dan uang barunya. Saya memang tidak tahu pasti angka nya, yang jelas, tiap kali saya menyortir uang, tumpukan UTLE  selalu lebih tinggi dibanding ULE dan uang baru..😦

Hal-hal yang menyebabkan rusaknya uang kertas antara lain; menyetapler (nulisnya gimana sih😀 ) uang, merobek 2/3 bagiannya, dan, MENULISI uang kertas. hohoho.. apakah anda pernah, atau bahkan sering melakukan hal-hal tersebut? semoga tidak ya..🙂

Dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, yang paling sering kita jumpai di kehidupan sehari hari adalah yang ketiga. Menulis uang. Nggak heran ya, karena sekarang ini (bahkan) teller bank pun masih banyak yang ‘hobi’ menulisi uang. Saya menganggap mereka belum tahu. Atau memang mereka sudah tahu, tapi pura pura nggak tahu (lho piye toh :D). Entah lagi iseng, lagi ga ada kerjaan, atau alasan apapun, pokoknya JANGAN sekali sekali menulisi uang kertas.

Susah memang mengubah suatu kebiasaan. Terutama kebiasaan memperlakukan uang kertas ini. Harus benar-benar kemauan dari masing-masing pribadi. Saya masih ingat waktu itu ketika BI mengumumkan akan mengeluarkan uang pecahan Rp 2000,- pada Ramadhan tahun 2009. Semua antusias dan heboh membicarakannya. Kami pun kebanjiran pertanyaan dari nasabah ‘uang barunya udah keluar?’. Sampai seminggu sebelum Lebaran, akhirnya uang baru emisi 2009 itu terbit, langsung ludes. Tapi selang beberapa hari setelah libur Lebaran, saya baru kembali masuk kerja, tapi sudah menerima uang pecahan 2000 yang lusuh, kotor, dan tidak layak edar. Baru beberapa hari lho yaa..😦

Keadaan uang kertas kita berbalik 180 derajat dengan uang kertas negara lain khususnya USD. Perhatikan saja, orang orang selalu membawa USD nya secara hati hati, memasukkannya dalam kotak khusus agar tidak terlipat, bahkan bank bank di Indonesia seringnya menolak atau memberikan biaya khusus untuk lembaran USD yang ‘cacat’ meskipun sedikit. Malu nggak sih?

Nah, semoga setelah membaca tulisan ini, anda bisa menjadi lebih menghargai uang kita ya. Tidak perlu menyalahkan siapapun, tidak perlu menggurui siapapun. Karena mengubah kebiasaan itu memang (sedikit) susah. Tapi setidaknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Ya kan?🙂


7 responses to “Do-it !

  • bisot

    deh di maumere sini uang sudah tidak layak edar banyak sekali hahaha, lusuh2, mungkin karena banyak nelayan sehingga uang sering basah kali yah? nice post, gambarnya top🙂

  • rusle

    Mbandah, uang lusuh dan korengan itu kayaknya bukan monopoli uang kita deh..hehe. Disini, uang dirham juga sering lusuh dan busuk🙂
    Setahu saya mereka yg ‘terlihat’ menjaga rapi duit nya krn Bank atau exchange agent ga mau nerima duit lusuh.

    Btw, memang sepatutnya kita menghargai duit, selain alasan kesehatan, juga alasan etis..:)

    Nice posting, mbandah.
    Mudah2an postingan ini menandakan dirimu sdh ga patah hati lagi…:)

  • mellysukses

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://lowonganterbaik2011.blogspot.com/

  • rianadhivira

    jadi selain hargai barang dalam negri hargai juga rupiah ya, baru tau soal uang tidak layak edar. Jadi ngikik soalnya sering nemu nomer hape di uang kertas hahahaha

    *salim silaturahmi

  • Ipul dg. Gassing

    saya suka komennya Melly sukses..

  • unggulcenter

    nah, memang benar, ternyata kultur kita pun, (menurut penelitian independen saya sendiri hehe) itu kalau mau ngasih duit bagus ke orang sayang, jadi disimpen.

    Nah kalau tetap duitnya mau dikasih ke orang, lets say bayar Angkutan umum, biasanya di-bejek-bejek (kayak gimana nulisnya juga bingung), diremuk2, digenggam, lipet nah baru deh kasih ke si abang sopir angkot.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: