Resign

Hari ini tepat 19 hari setelah surat ‘sakti’ itu saya ketik dan saya ajukan kepada atasan. Perasaan saya sekarang? ngambang. nggak jelas antara seneng atau sedih. Senang karena setelah ini bakal ‘bebas’, sedih karna… karna apa ya? hehehe..nggak jelas banget ya.

Semua berawal dari mulai saya masuk kerja. Terus terang saya merasa ‘dibohongi’. Karena apa yang sudah saya perjuangkan mati matian ternyata tidak sesuai harapan. Kala itu saya bertanya kepada seorang staff HRD tentang status kepegawaian saya di perusahaan itu nantinya. Dia bilang setelah satu tahun, bakal ada tes pengangkatan calon pegawai tetap, tapi kenyataannya berbeda. jauh.Dari situ saya sudah mulai berpikir ulang, sudah mulai males duluan, terus terang.

Jadi kalau dibilang saya terburu buru, sebetulnya nggak juga. Karena pemikiran untuk resign ini sudah muncul, bahkan sejak hari pertama saya masuk kerja. Saya langsung merasa bahwa perusahaan ini bukan masa depan saya. Lalu kenapa eksekusinya baru sekarang, setelah 9 bulan berjalan?

Karna ternyata ‘resign’ bukanlah perkara mudah. Selama 9 bulan itu saya berpikir dan terus berpikir. Awalnya saya merasa sayang, karena pekerjaan ini saya dapatkan setelah berjuang mati matian, bersaing dengan kandidat kandidat lain yang nggak kalah hebat, 6x seleksi yang nggak mudah, penantian kabar yang memakan waktu 3 bulan. pokoknya ‘berdarah-darah’ banget, masa iya mau dilepas gitu aja? Kedua, saya takut kalau saya jadi manusia yang Kufur nikmat, saya takut jadi manusia yang enggak tahu caranya bersyukur dan berterima kasih sama Allah..dan ini mengerikan, mengingat kalau Allah akan memberi hukuman yang amat pedih bagi hambaNya yang mengingkari nikmatNya. Saya memang bukan umat muslim yang taat banget. Tapi saya percaya hal itu. Makanya saya mencoba bertahan, mencoba bersyukur.

Konflik intern yang perlahan lahan timbul permukaan, serta tuntutan pekerjaan yang membuat saya merasa ‘terpenjara’ setiap harinya, membuat saya semakin tertekan. Membuat saya hampir gila, membuat saya capek dan stress luar biasa,bahkan tak jarang saya lari ke restroom untuk menangis di sana..hehehe.. yaya saya cengeng.

Terpenjara seperti apa? ya, you know lah, pekerjaan saya di lini depan ini menuntut saya untuk menjadi se-sempurna yang saya bisa, dari ujung rambut sampai ujung kaki. saking sempurnanya sampai sampai diomelin pun harus tetap senyum, dikata katain juga harus tetap senyum, kalau bicara harus terstruktur, mau pipis pun harus nunggu sepi, dan HP adalah barang paling haram untuk disentuh setiap harinya. Hal terakhir adalah hal yang paling berat, mengingat sebagian besar teman teman saya ada di dunia maya, jadi hanya lewat internet saja kami dapat bertegur sapa dan bertukar info baru. Saya memang bukan seleb, tapi twitter bagi saya penting, karena informasi tentang apapun di luar sana bisa bergerak sedemikian cepatnya lewat twitter. Begitu juga milis, dan situs situs berita lain yang biasa saya pantau lewat HP saya. Di era yang serba digital seperti sekarang ini, ketinggalan berita baru kok kayaknya kasihan banget ya..trus buat apa tuh beli gadget mahal mahal? untungnya HP saya murah (an). hehe.. nggak jarang saya iri sama teman teman. Mereka bisa bebas menjadi diri mereka sendiri, mereka bisa meraih banyak prestasi, menambah ilmu, mendapatkan banyak peluang bagus di luar sana. Sementara saya? hanya bisa duduk, senyum, duduk lagi, senyum lagi. OUCH!!

dan apa yang lebih menyakitkan selain tak bisa menjadi diri sendiri? ngobrol enggak boleh, ini nggak boleh, itu nggak boleh..😦

curhat sana sini juga sudah saya lakukan, dan semuanya sama; kecewa, dan cenderung menyayangkan keputusan saya. Saya tambah sedih.Saya merasa keputusan saya ini tidak didukung. Ibarat calon presiden yang sama sekali nggak memperoleh dukungan dari rakyatnya. Sedih, putus asa, bimbang, galau.. campur aduk. Mereka bilang saya harus tinggal sampai dapet pekerjaan baru, mereka bilang saya harus tinggal sampai musim bonus-an tiba, mereka bilang saya bodoh. Ya, akhir januari ini dan maret besok, bonusnya cair. Duh, dilema banget.

Satu satunya orang yang mendukung saya adalah gembili. Dia yang selama ini menghibur saya, dia satu satunya yang menganggap keputusan ini benar. Dia yang bilang saya berani, dia yang selalu bilang kalau dunia luar sudah menunggu saya, dia yang percaya kalau saya bisa terbang jauh lebih tinggi di luar sana. *mewek*

Setelah 8 bulan berpikir, akhirnya saya mantap dengan pendirian untuk resign. Saya merasa tidak sanggup untuk menjadi sempurna, saya merasa sudah terlalu banyak mengeluh, saya merasa kehilangan semangat dan passion saya di sini. Akan tiba suatu masa dalam hidup manusia dimana dia harus mengambil suatu keputusan besar yang berat. Dan sekaranglah masa itu datang pada hidup saya.

Ke depannya? jujur saya belum tahu. Mungkin saya mau istirahat sejenak. Jujur masalah resign ini sudah cukup menguras tenaga, pikiran, dan hati saya. Nanti kalau sudah tenang, saya mulai dari awal lagi. Saya ingin melakukan hal hal yang selama ini nggak bisa saya lakukan, mulai dari yang sederhana seperti menikmati pagi, sampai yang selama ini cuma bisa saya mimpikan; travelling.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyindir siapa siapa, tulisan ini saya buat untuk kepentingan pribadi, untuk menguatkan diri saya sendiri. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan perusahaan saya berkerja sekarang. Hanya saja saya yang sudah tidak sanggup mengikuti ritme kerjanya. Saya masuk baik-baik, begitu pula saya mundur juga secara baik-baik.

Mungkin keputusan ini adalah keputusan bodoh di mata orang lain, tapi buat saya, ini adalah yang terbaik. tolong hargai keputusan saya, dan tolong jangan goyahkan pendirian saya (lagi). This is the beginning, not the end.

Sudah ya, saya mau berangkat rafting.


9 responses to “Resign

  • mbitmbot

    ketika bekerja sudah tdk nyaman, yg ada hanya menjadi duri dalam hati, sebaiknya memang resign. hunting kerjaan yuuk

  • iPul dg Gassing

    baru baca ini…
    hiks..:'(
    kejadiannya hampir sama dengan yang saya alami. saya juga akhirnya resign setelah 15 tahun dengan alasan yg ampir sama, sama2 kehilangan passion..

    dan, saya juga belum tau mau ngapain dan mau kerja apa..
    selamat ya..
    semoga kita benar2 orang pemberani, bukan orang yg nekad apalagi kufur nikmat..

  • cutietiwie

    kondisi yg bener2 sama seperti yg aku rasain 2th ini mba, bener2 kerja kok ngerasa engga enjoy yha, curhat pengen resign malah banyak yg menyayangkan, alasan kerjaan sdh di kampung halaman sendiri, status udah permanen pula, apalagi yg kurang?
    tp yha itu td rasanya hati pengen berontak dikungkung terus 8 jam sehari 6 hari seminggu di meja yg sma didepan kompi terus2an dan ilmu yg ga berkembang…
    akhir bln depan rencananya pengen melayangkan “surat sakti” tersebut. moga2 keluarga bs memaklumi tanpa menghakimi terlebih dahulu keputusan berat ini.

  • martha greta

    saat menulis komentar ini saya sedang galau2 nya setelah 7 bulan kerja, galaunya dimulai juga sejak hari pertama kerja seperti mbak.. masih bermimpi..

  • Chintia Mega Nuraeni

    Hi.
    Aku gak sengaja liat postingan kakak, aku lulusan tahun 2015 dan baru aja ngerasain kerja selama 7 bulan.
    Aku merasakan apa yg kakak rasakan.
    Tbh, aku pikir ini fine2 aja krn this is the first time for me, kerja pagi pulang malem. Aku pikir “oo ini toh rasanya cari uang”
    But its totally wrong. Ketika tau sallary yg didapet (sangat) tidak sepadan sama kerjaan kita yg (sangat) dituntut untuk sempurna. Fyi, aku farmasis, jd pasien tiap hari suka bgt ngebentak dan nyalah2in aku, even sebenernya dia kurang informasi.
    Hm. Tulisan kakak jd semangat buat aku, aku harus ke duniaku, di luar nanti semoga kita bisa dapat yg lebih bahkan jauuuuhhh lebih baik dari ini.
    Terima kasih kak!
    Semangat untuk kita semuaaa!^^

  • Bunga

    Sama .. Saya juga lg mengalami galau yg sangat luar biasa..
    Antara resign atau tidak karena tidak nyaman di tempat kerja yg skrg..
    Daripada tiap hari depresi lebih baik resign kali ya…

  • faiz

    Sama semua hehe… Pengen keluar tapi belum berani nih butuh pencerahan donkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: