Rafting Serayu : pedihnya bermain UNO, Hangatnya ronde, dan pesona Sindoro yang memanjakan mata


Begitu mendengar kata rafting, yang langsung terbayang di kepala saya hanya dua hal ini; basah-basahan dan seru-seruan ( baca : jejeritan ). Maka begitu ada yang mention saya di twitter dan memberi tahu bahwa bakal ada rafting di sungai Serayu, Banjarnegara, tanpa pikir panjang, saya langsung ikut. hehehe..

Ini adalah pengalaman rafting saya yang kedua setelah rafting di Elo, Magelang, tahun lalu. Waktu itu benar- benar masih buta soal rafting, bahkan ketika tahu kalau ternyata badan kita nggak diikat oleh seutas tali pun ke perahu karet, saya sempat shock. lah.. ini beneran nggak diiket apa2? tanya saya waktu itu dengan muka pucat. Nanti kalo kecebur gimana? rasanya beneran pengen balik pulang ke Semarang naik bus deh saya. huhuhu..

Ungkapan tak kenal maka tak sayang ternyata berlaku juga buat rafting ini. Saya yang awalnya takut, malah jadi ketagihan. Elo yang memang nggak begitu banyak jeramnya membuat saya dan teman teman pengen merasakan yang ‘lebih’.

Singkat cerita, pas long weekend libur imlek kemarin, saya dan teman2 Loenpia, bersama beberapa teman dari komunitas couchsurfing plus dua teman ‘gila’ saya, @dhianivanna dan @wa_tayux ,bersama -sama pergi ke Banjarnegara untuk menaklukkan ganasnya jeram sungai Serayu.. tsaahhh..

Berangkat siang hari dari Semarang, saya dan teman teman sampai di rumah ipi di Parakan, Temanggung tepat menjelang Maghrib. Begitu keluar mobil, brrrr.. dinginnya langsung terasa. Kami ber-10 disambut ramah oleh ipi dan ibunya. minuman hangat dan makanan yang berlimpah ikut menyambut kedatangan kami. Bahkan ibunya ipi juga langsung masak, menyiapkan ayam goreng plus sambel dan nasi hangat yang mak nyus. wah, jadi nggak enak nih pi..😀

Malam kami lalui dengan suka cita. Ada yang buka lapak ramal kartu, ada yang nonton tipi, ada yang cerita-cerita, dan ada yang ngakak ngakak karna main kartu UNO. saya ikutan yang terakhir. tapi saya nggak ikutan ketawa sih, karna justru saya yang diketawain. *straight face*. sudah. jangan dibahas.

Nggak tahan sama udara dingin, akhirnya kami bersebelas main bolamemutuskan untuk jalan jalan mencari wedang ronde yang katanya enak banget itu. Tempat penjual ronde itu nggak begitu jauh dari rumah ipi. Hanya gerobak kaki lima biasa yang ada di depan emperan toko yang sudah tutup, tapi jangan remehkan dulu, wedang rondenya enak banget!

jujur saya sebenarnya nggak begitu suka minum wedang ronde. Karena rasanya yang pedes banget. Tapi wedang ronde yang satu ini memberikan sudut pandang baru dalam dunia perondean.. halah. Selama ini Saya terbiasa mendapatkan ronde yang ‘tinggal bawa’ or ‘tinggal minum’. Jadi pedesnya ya suka suka penjualnya. Ini membuat pikiran saya seperti di-setting, ronde ya pedes gini. Tapi ketika si ibu istrinya bapak penjual ronde *muyer* Parakan ini menawarkan ‘kalo kurang pedes bilang ya mbak, nanti saya tambahin sirup jahenya’, saya malah kaget, lah, jadi bisa to, kita nentuin kadar pedes sendiri? saya yang enggak suka ronde pedes langsung girang gitu.. hehe.. hal lain yang saya pelajari adalah fakta tentang ronde itu sendiri. Pada dasarnya, yang disebut ronde adalah bulatan putih berisi kacang yang ada di dalam wedangnya. Dan yang selama ini saya makan adalah ronde yang keras, agak alot gitu. tapi di wedang ronde Parakan ini, rondenya empuk, lunak. usut punya usut, ternyata yang bikin ronde itu alot adalah karena sudah nggak baru, jadi mengeras, sedangkan rondenya bapaknya ini, dibikin langsung malam itu juga, langsung di-gelindingin kecil kecil dari tepung beras ketan yang dicampur air sedikit, dikasih kacang goreng sebiji, trus direbus, sebelum akhirnya diangkat dan dimasukkan ke kuah ronde yang hangat.. ini kenapa malah bahas ronde?

menjelang jam setengah sebelas malam, rombongan mobil yang membawa mbak Elvi dan teman teman couchsurfing pun datang. Capek? Enggak! ngakak ngakak pun lanjut sampai midnight, sampai pipi dan perut kejang saking overlaughing..hehehe..dingin yang menusuk tulang pun kami abaikan saking gembiranya. Kaki saya yang ngilu tiap berada di tempat dingin pun tak saya hiraukan.

Rencana hunting sunrise di lereng gunung akhirnya batal karena dari depan rumah ipi saja sudah cukup indah pemandangannya ( baca : pada bangun kesiangan ). Setelah puas poto-poto, akhirnya kami berangkat juga ke meeting point di wonosobo. Lewat Jumprit – Tambi yang memang agak jauh karna harus memutar jalan, tapi pemandangannyaaaaaaa… whoaaaaa… indah banget.. kayak liat lukisan! mata kami benar benar dimanjakan sama warna hijau khas pegunungan. nggak nyesel deh pokoknya.

Setelah sampai di Wonosobo dan bertemu operator rafting dan dua teman kami yang lain, kami langsung capcus menuju Banjarnegara. dan here it is.. Serayu river!

Pengalaman rafting terdahulu ternyata nggak bikin saya tambah berani. Pengarahan dari skipper yang celelekan justru membuat saya ngeper duluan, gak tau kenapa. Tapi yawes Bismilah aja.

Semuanya baik baik saja sampai ada salah satu teman kami yang terjatuh, tercebur tepatnya. Ketika saya melihat dia di belakang, mukanya sudah pucat, hanya bisa pasrah terbawa arus, dan kepalanya sempat terbentur batu. walaupun nggak lama setelah itu dia bisa diselamatkan, tapi abis itu saya jadi takut parah. Ditambah setelah itu teman teman yang lain ikutan ‘berjatuhan’. hii…Ada yang perahunya nyangkut di batu gede beberapa kali… doh! kenapa jadi parno gini. Si skipper di perahu saya juga usilnya nggak ketulungan. Ngeliat saya yang ketakutan, dia justru tambah ngegodain.. ‘ ini kalo perahunya kebalik kira kira gimana yaaaaa…’, ‘ kayaknya di perahu kita belum ada yang jatuh nihhhhh.. nggak seru dongggggg’…Haag dezzz! nggak tahu apa kalo saya udah stress berat gegara takut kecebur? nanti kalo saya kecebur mau gondhelan sapa coba? *eh*

Nggak bisa terungkapkan dengan kata kata deh pokoknya, seru abis, puas jejeritan n basah basahan, plus campur deg-deg an. mungkin ini yang namanya adrenaline ya? jeramnya serayu memang menantang banget. Soal keselamatan? jangan khawatir, sudah ada Skipper2 handal yang siap mengawal kita selama rafting, soal safety juga berulang2 diingatkan, bagaimana memakai pelampung yang benar, helm, cara duduk di perahu, cara memegang dayung, sampai hal hal yang harus dilakukan jika kita jatuh dan terbawa arus pun sudah diberi tahu di awal, asuransi juga ada, yang penting berdoa, dan nurut apa kata skipper. Insyaallah aman.

Saya pribadi, walaupun penakut dan enggak bisa renang, bakal tetep ikut rafting kalau ada kesempatan. Serunya itu lho, priceless. bener deh. Next, mungkin saya dan teman teman akan mencoba jalur rafting yang baru dibuka di Purworejo, sungai Bogowonto, atau mungkin rafting di Gianyar, Bali, atau di Citarik? tunggu cerita selanjutnya ya!

photos by @_mizan , @elvibandanaku, @lawabiroe


22 responses to “Rafting Serayu : pedihnya bermain UNO, Hangatnya ronde, dan pesona Sindoro yang memanjakan mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: