Yang unik dan yang asik di Bali

Krisna

Adalah nama tempat atau toko pusat oleh-oleh di Bali. Tercatat ada 4 cabang yang tersebar di seluruh Bali, tapi saya lebih suka datang ke Krisna di jln Tuban, karena disitu satu-satunya yang buka 24 jam.

Kenapa Krisna? Karena hampir semua jenis oleh-oleh khas Bali ada di situ. Dari mulai kaos, sarung pantai, sandal, perlengkapan spa, tas-tas rajutan, pernak-pernik dan asesoris termasuk udeng dan kalung-kalung buat cewe-cewe, sampai makanan kecil seperti  pie susu, kacang disko, kopi Bali, semua deh! Harganya terjangkau banget. Buat yang punya banyak ‘pesanan’ oleh oleh dari kerabatnya, boleh coba dateng Ke Krisna, tempatnya gede dan luas, full AC juga, jadi nggak masalah kalau harus berlama-lama disana. selengkapnya di www.krisnabali.co.id .

Pia Legong

Dari namanya aja udah ketahuan ini apaan. Pia ini bisa dibeli di tokonya yang berada di sebuah ruko yang letaknya di Bypass Ngurah Rai, deket bandara sana. Harganya Rp. 70.000,- per dus, dan kalau anda membelinya di  tempat lain selain di toko ini, harganya bisa naik sampai Rp. 90.000,- per dus.

Trus apanya yang istimewa? Hear this; untuk bisa mendapatkan Pia Legong yang akan anda berikan sebagai oleh-oleh, anda harus datang pagi-pagi sekali sebelum jam 9. Karena setelah jam 9 pembelian di tempat akan ditutup, dan hanya menerima pesanan. Masih belum cukup bikin shock? Oke, saya kasih foto aja ya..

Foto di atas adalah foto customer yang ‘beli di tempat’. Kalau sebelum jam 9 saja sudah sepanjang ini antriannya, bisa dibayangkan dong anda bakal antri berapa lama kalau datangnya mepet? Udah gitu, setiap orang hanya boleh membeli maksimal 2 dus saja. Si mbak yang bekerja di Pepito kadang suka ngedumel gitu kalo pas kebagian antri beli buat stock di supermarketnya, sudah gitu, Cuma boleh beli 4-6 dus saja. Hohohho.. shocking enough? Nggak Cuma itu, buat anda yang males ngantri dan mau pesen aja, harus sabar menunggu, karena pesanan dilayani minimal seminggu sebelumnya. Muahahaha.. kapokmu kapan. Meskipun begitu, lelahnya mengantri ini bisa jadi cerita unik dan kebanggaan sendiri lho.🙂

Rasanya kayak apa sih Pia Legong, kok sampe segitunya? Buat anda penggemar cokelat dan keju, anda boleh berbahagia, karena isi pia legong ini nggak tanggung-tanggung, coklat dan kejunya tebel banget. Enak maksimal. Pia nya juga gede, cocok buat anda yang tukang ngemil. Hehe.. selamat mengantri, eh, mencoba! selengkapnya di www.pialegong.com

Nasi Pedas

Ketika diajak makan di warung nasi pedas, saya langsung mengira-ira, yang pedas apanya ya? Apakah sambelnya? Apakah nasinya ada campuran cabenya? Apakah ada menu khusus yang super pedas? Atau mungkin makannya sambil digampar? Halah.. gaktau lah..

Penasaran, saya langsung melongok lebay ke tempat masakan-masakan dan lauk itu disajikan. Lha..kok kayak rames-an biasa, oseng kangkung, telur balado.. ck.. sambalnya juga satu macam tok..ya sudahlah yang penting makan, udah nggak bisa mikir inih, laper banget.

nasi pedas bu epah

Sesuap-dua suap sih masih biasa aja, sampai pada beberapa suap berikutnya, saya mulai gelisah. Puedes buanget coy! Gilak! Padahal saya enggak pake sambel loh.. Cuma oseng kangkung, mie sama telur balado saja. Ketika saya lirik Gembili, walah.. dia malah keringetnya sudah kemana-mana saking kepedesan.. huahahaha!  Pedesnya nggak kira kira emang! Saya pun nyerah, nggak kuat ngabisin semuanya. Telur balado yang biasanya abis karna saya suka banget itu pun tersisa separo..hahaha… ampunn buuukk… *sungkem sama ibuk penjual nasi pedas*

Buat anda yang Muslim

jawa-muslim-halal

Dua minggu di Bali bagi backpacker manja kayak saya tentu saja bikin kantong tipis kalau makannya tiap hari di McD or resto mewah melulu. Selain itu, bosen juga kali makan junkfood terus. Mau nggak mau saya harus cari alternatif tempat makan lain biar nggak bosen. Buat anda yang non muslim, berbahagialah, karena mudah cari tempat makan di Bali. Tapi kalau buat saya, susah-susah gampang. Harus benar-benar cari tempat makan yang 100% halal. Untungnya di Bali keberadaan warung-warung makan jawa-muslim lumayan banyak dan tersebar dimana-mana. Mbandah kok tau? Ya kan ada tulisannya; ‘warung jawa’ or ‘warung muslim jawa’  atau ke ‘café seafood muslim’ yang sempat saya kunjungi. Jadi kalau anda ragu, cari saja yang ada tulisannya. Dan percaya atau enggak, beberapa warung jawa-muslim yang saya kunjungi ini justru rame lho, padahal umat muslim di sana kan minoritas. Ternyata nggak jarang orang orang pribumi Bali juga makan di sana, bahkan bule-bule juga banyak yang makan di warung tersebut.

Sistem Kupon

Masih seputar makanan, dan kali ini tentang cara pembayaran yang unik. Setiap saya habis ambil/diambilkan makan oleh pramusajinya, saya langsung diberi kupon kecil yang bertuliskan harga makanan saya tersebut. Misal saya makan pake nasi, sayur, plus satu lauk, maka si mbak akan memberi kupon bertulis Rp 9.500, kemudian Gembili makan pake nasi, sayur, dua lauk, plus kerupuk, si mbak akan memberi kupon Rp 12.000,- nanti setelah pesan minum, kami akan diberi kupon lagi. Nambah camilan, akan dapet kupon lagi.. hehehe.. kupon itu nanti akan dibawa ke kasir pas mau bayar, untuk kemudian dijumlahkan. Saya sempat mikir, kalau ada yang nakal trus kuponnya diumpetin satu, kan enggak ketahuan? Rugi dong penjualnya.. tapi semoga enggak ya. Pembayaran sistem kupon ini beberapa kali saya temui di warung-warung makan jawa yang tempatnya agak besar.

sistem kupon

Baju adat dan helm

Saya dengar cerita dari om saya, katanya buat orang-orang Bali yang sedang pake baju adat karena keperluan ibadah dan upacara, diperbolehkan untuk enggak pakai helm selama naik motor. Sepanjang jalan saya mengamati, ternyata benar adanya. Menurut saya ini bukti nyata bahwa masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi nilai nilai budaya dan agama yang mereka anut. Salut deh.

Taman di dalam Mal

kebetulan pas lagi ada acara gathering salah satu produsen motor

Kalau di dalam TransMall Makassar ada kapal yaht supergede yang tiang layarnya nembus sampe lantai paling atas, di dalam mall Galeria Bali ada taman kecil lengkap dengan pohon-pohon hijau  dan bangku-bangkunya. Cocok buat mereka yang lelah trus pengen istirahat setelah belanja.

 Belajar Bahasa Bali sedikit-sedikit

Kalau di Semarang ada Nasi Kucing, maka di Bali ada Nasi Jinggo. Bli adalah panggilan untuk lelaki bali yang sudah agak dewasa atau lebih tua dari kita, sedangkan untuk yang masih muda, biasanya dipanggil Gus. Untuk perempuan yang lebih tua biasanya dipanggil Mbok. Rahajeng artinya selamat, biasanya digunakan untuk mengucapkan Rahajeng Galungan, Rahajeng Nyepi (selamat hari raya). Untuk menanyakan kabar, biasanya kita bilang; kengken kabare? (dengan pengucapan ‘e’ seperti pada café, artinya bagaimana kabarnya) dijawab dengan ‘ becik becik’ (baik baik). Ngacung berarti ngasong, atau berjualan, jadi jangan kaget kalau pas ke pantai seminyak ada tulisan dilarang mengacung.😀

Ciri kas logat Bali adalah pengucapan huruf ‘t’ yang berubah jadi ‘th’, misalnya foto jadi fotho, dan huruf ‘a’ di akhir sebuah kata yang berubah menjadi ‘e’ (pengucapan seperti pada ‘gelas’) misalnya Negara jadi Negare, Jembrana jadi Jembrane, Ida Bagus Sementara, jadi Ida Bagus Sementare.😀

Om Swastiastu adalah semacam salam/ sapaan. Mungkin hampir mirip dengan Assalamu Alaikum yang kita ucapkan ketika bertemu atau menyapa sesama muslim.

Banjar adalah sebutan untuk kelurahan, dan Puri adalah nama daerah Pura yang biasanya diidentikkan dengan asal daerah beberapa orang. Kalau di Jawa mirip kayak keraton atau kesultanan gitu lah. Anda mungkin akan mendengar beberapa orang bertanya ‘dari Puri mana?’ asal jangan dijawab dari ‘Puri Gading’ saja.. hehe, bisa dikeplak sama Bli Bli nanti. Satu lagi, jangan pernah bilang ‘ kenyang’ kalau anda ditawari makan sama orang Bali asli. Pokoknya jangan. Cukup jawab ‘saya sudah makan tadi’ atau ‘saya belum lapar’😀

Sambel Matang

Buat anda penyuka sambal, wajib nyoba sambal asli bali yang satu ini. Biarpun namanya sambal matah, tapi ternyata bahan-bahan yang ada di dalamnya masih mentah semua. Jadi isinya cabe rawit, dan bawang merah (di beberapa tempat dicampur serai) dipotong kecil-kecil gitu, trus ditambahkan sedikit minyak goreng yang panas, dicampur sambil dibejek-bejek dikit pake sendok, udah, disajikan gitu aja. Damn, membayangkannya saja saya sudah ngiler. Kalau anda kebetulan mampir di restoran masakan Indonesia atau di warung warung jawa muslim, coba minta sama mbak nya deh, kalau beruntung , pasti dapet. Atau kalau pas lagi di jalan anda nemu plang gede warna merah yang tulisannya ‘ stop! Makan yukk.. ‘ nah, di situ ada.

Angkot

Jika di kota besar lain anda bisa berkeliling sambil naik angkot, maka di Bali anda harus siap-siap, karena di sini nyaris nggak ada angkot. Dua minggu saya berada di bali, nggak ngeliat satupun angkot yang lewat. Hanya Sarbagita, bus trans Bali berwarna biru yang sesekali terlihat di tengah-tengah kemacetan. Itupun selalu sepi penumpang. Dengan membayar RP 3500,-, anda bisa naik Sarbagita yang trayeknya baru Batubulan-Sanur-central parkir Kuta-Jimbaran-Nusa Dua. Alternatif lain, taksi yang agak mahal, belum lagi ditambah macet yang pasti akan menambah biaya. Alternatif berikutnya, sewa motor dengan biaya mulai Rp 50.000,- per hari. Silakan, mau pilih yang mana.

Saya nggak begitu paham kenapa tidak ada angkot di Bali, ketika saya bertanya kepada salah seorang karyawan tante, dia hanya bilang ‘wah, di bali nggak ada angkot, pada naik motor semua mbak, kalo orang bali nggak punya motor, mati aja deh..’ wow.. segitunya ya.. ‘mati’ yang dimaksud pastinya bukan mati fisik, tapi lebih ke ‘mati’ karna dia nggak bisa kemana mana, nggak bisa berkarya, dan sebagainya.

Saya jadi inget dulu si Om pernah cerita, di Bali, setiap orang punya motor. Jadi, kalau di sebuah rumah ada ayah-ibu-dengan 6 orang anak misalnya, maka jumlah motor dalam rumah itu ada 8 buah. Wow!

 Udeng

Kalo di Jawa ada blangkon, di Makassar ada Songkok, maka di bali ada Udeng ( huruf ‘e’ dibaca seperti dalam ‘gelas’). Sama sama digunakan di kepala, sama sama dipakai oleh para lelaki. Bedanya, udeng lebih sering dipakai oleh Pria-pria Bali dibanding blangkon atau songkok yang hanya dipakai jika ada upacara adat atau perayaan tertentu.

Biasanya udeng dipakai oleh mereka yang akan beribadah, melengkapi pakaian adat yang dipakainya. Tapi pada kenyataannya udeng ini juga dipakai sehari hari, saat bekerja, saat bepergian, bahkan di rumah. Terus terang saya suka banget melihat lelaki lekaki ber- udeng ini. Tambah ganteng aja gitu rasanya.. ihik..

Dua minggu rasanya begitu cepat berlalu deh, rasanya masih banyak sisi lain dari Bali yang belum sempat saya ulik. Pantai dan obyek wisatanya saja belum sempat saya kunjungi semua. Lalu lintas Bali yang sudah lumayan padat (baca: macet) tak jarang bikin kami kehabisan waktu di jalan sehingga semakin sedikit pula waktu jalan jalannya. Tapi nggak diragukan lagi ya, kalau Bali memang spesial. Kayaknya enggak ada deh yang enggak jatuh cinta sama Bali. Sama kayak saya, dan anda juga pastinya. Pesen saya Cuma satu, yuk mari kita sama-sama menjaga Bali, biar tetep asri dan nyaman untuk dikunjungi. Terutama untuk anda yang suka pantai. Jangan ngaku pecinta pantai deh ya, kalo masih mengotori pantai. Lets keep our beach clean ya sodara sodara. Sudah ah, kayak kepala daerah aja nih guwe ngomongnya😀


5 responses to “Yang unik dan yang asik di Bali

  • Fajar

    mantaffff mbakk!!! Makasih buanyak buat inponya..!! =)

  • Denis

    PIa Legong bukan hanya unik tapi “Tergila” kalau mau beli harus pesan 3 mingguan lamanya, tapi update terbaru “katanya” kalau hanya beli langsung hanya di bolehkan maksimal 2 kotak per orang/hari. So tipsnya kalau mau beli 10 kotak, bawa aja rekanmu 5 orang hahahahhahah

  • vincen

    wuaaa sist mbandah, nyesel juga kemarin ga nyoba beli pia legong, aga keheran’an sih waktu di jalan baca tulilsan Pia Legong apa’an itu? kupikir cuman pia susu aja yg terkenal. nasi pedesnya jg kelewat ga ke icip. cuma ayam betutu rebus didkt bubur Acheng itu enak banget.

  • hamster

    mending pake motor keliling seluruh bali. ga pake macet segala. kalo naik mobil rugi besar apalagi mobil ac. menikmati keindahan bali yg tiada tara di balik kaca. but yg ku ga suka jalan gilimanuk – denpasar rusak berat. ya solusinya lewat utara ke singaraja trus bedugul n turun ke dps. dan utk pengunjung baru mending bawa peta. yg digital better.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: