Salamakki Battu Ri Mangkasara

Bicara tentang provinsi Sulawesi Selatan tentu nggak lepas dari ibukotanya, yaitu Makassar. Dan ketika terdengar kata ‘Makassar’, apa yang langsung terbayang di pikiran anda? Pantai Losari kah? atau coto khas Makassar yang terkenal itu? atau malah dua-duanya? apapun pilihan anda, yang jelas setelah berkunjung ke Makassar awal September kemarin, saya jadi tahu, kalau ternyata Makassar punya banyak hal yang unik dan Menarik disamping Pantai Losari dan makanan tradisionalnya, coto Makassar.🙂

Berikut ini adalah beberapa tempat yang menarik di Makassar yang sempat saya kunjungi.

Bandara Internasional Sultan Hassanudin

Loh, jauh-jauh ke Makassar kok cuma pengen lihat bandara? kan bandara banyak, di Semarang juga ada! eits.. jangan salah, justru tempat inilah yang membuat saya terpukau ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota yang dulu bernama Ujung Pandang ini. Nggak seperti bandara-bandara lain yang umumnya hanya berfungsi sebagai tempat kedatangan atau keberangkatan, gedung bandara Sultan Hassanudin ini terlihat megah dan mewah, baik itu secara interior maupun eksterior. Jadi berasa seperti bukan di Indonesia. Semuanya serba luas dan bersih. Desain langit-langit yang menawan serta cahaya lampu malam hari yang disusun sedemikian rupa semakin menambah keunikan bandara ini.

Pantai Losari

Siapa yang tak kenal pantai ini? pantai yang menjadi ikon kota Makassar ini berada di tengah-tengah padatnya arus lalu lintas jalan raya, tak heran, karena banyak sekali gedung-gedung seperti restoran, hotel, serta beberapa kantor dan bank yang berdiri di dekatnya. Hampir setiap orang yang berkunjung ke Makassar pasti ingin berkunjung ke pantai Losari. Selain untuk menikmati pemandangan cantiknya, Pantai Losari biasanya banyak dijadikan tempat favorit untuk foto-foto, dimana lagi selain di tulisannya yang gede-gede itu🙂

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di sekitar pantai selain duduk-duduk dan foto-foto yaitu menikmati manisnya pisang epe. Makanan yang dijual dengan harga 6000 sampai 7000 Rupiah ini dibuat dari pisang yang dibelah dan dibakar setengah matang sebelum kemudian disiram dengan lelehan gula merah. Pisang epe ini terdapat dalam tiga pilihan rasa yaitu durian, coklat, dan keju. Hmmm…enak banget!🙂

Ketika asyik menyantap pisang epe, tiba-tiba sekumpulan anak muda datang menghampiri. Berbekal alat musik seadanya, mereka menawarkan dan menyanyikan beberapa lagu beramai-ramai. Boleh request lagu juga lho..hehehe..Meskipun dengan alat musik seadanya, tapi suara dan gerakan mereka yang mengiringi lagu cukup menghibur saya. Salut deh sama anak-anak muda ini!

Sayangnya suka cita saya di pantai Losari sempat terganggu dengan keberadaan anak-anak kecil yang sedang bermain petasan lempar malam itu. Saya sampai terlonjak kaget ketika berjalan dan tiba-tiba ada sebuah petasan yang jatuh dan meletus di persis di depan kaki saya. Saya jadi tidak berani jalan mendekat ke arah pantai, dan akhirnya memilih duduk di pinggir-pinggir saja. Entah petasan itu ada karna memang waktu itu masih dalam suasana Lebaran atau memang setiap malam ada, saya tidak tahu. Semoga saja tidak ya, karna petasan-petasan lempar ini cukup mengganggu kenyamanan (dan keselamatan) para pengunjung Losari di malam hari.

Fort Rotterdam

Ketika saya datang ke Benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo ini, beberapa bagian gedungnya masih dalam tahap perbaikan dan renovasi. Mungkin perjalanan saya ke tempat ini bakal menarik jika saya didampingi seorang pemandu ya, jadi saya bisa tahu secara mendetail mengenai sejarah bentengnya. Sayangnya keberadaan pemandu di benteng Rotterdam ini nggak ada ( atau ada tapi saya enggak tahu? ), jadi terpaksa saya masuk dan berkeliling benteng sambil mendengar cerita yang seadanya dari teman saya yang kebetulan asli Makassar🙂 Bisa sih, mencari info di internet, tapi tetap saja nggak se-seru jika diterangkan langsung sama pemandu kan?

Entah saya yang datang pada waktu yang tidak tepat atau memang keadaan sehari-harinya memang seperti itu, yang jelas saya kok jadi merasa kurang nyaman ya, karena hampir 95% pengunjung yang datang waktu itu adalah muda mudi abg yang sepertinya malah menggunakan benteng sebagai tempat nongkrong (baca : ngobrol sambil ketawa-ketawa plus foto-foto narsis layaknya di cafe), bukan berkunjung ke tempat wisata sejarah sesuai dengan bangunannya. Saya jadi enggak berlama-lama di situ deh jadinya.😦

Duh, maafkan saya, saya jadi membayangkan dan membandingkan fort Rotterdam dengan Lawang Sewu yang ada di Semarang. Memang sih, untuk masuk ke Fort Rotterdam kita tidak perlu membayar alias gratis, tapi yang terjadi ya seperti itu tadi, semua orang jadi bebas masuk, bahkan yang enggak ‘berkepentingan’ wisata juga. Waktu itu saya jadi membayangkan, seandainya saja benteng ini dibuat seperti Lawang Sewu.. membebankan sedikit biaya untuk tiket masuk serta memperketat pengawasan saya pikir tidak masalah, jika memang bisa untuk ‘menyaring’ wisatawan yang ingin berkunjung. Apalagi kalau ditambah dengan adanya pemandu yang mengerti sejarah benteng sekaligus mahir berbahasa asing, tentu saja ini akan menjadi nilai lebih. Soalnya jujur saya sendiri waktu itu merasa sayang banget, kok bangunan sebagus ini cuma digunakan buat tempat nongkrong anak muda sih, nggak ada pemandunya lagi, padahal kan saya pengen tahu cerita dibalik gedung-gedung ini..😦

Kekurangan di obyek-obyek wisata pasti ada di setiap daerah. Yang terpenting adalah bagaimana usaha pemerintah setempat dibantu dengan masyarakat sekitar untuk memperbaikinya. Saya pribadi sebagai pengunjung dari luar pulau cukup terkesan dengan obyek wisata di Makassar, dan berharap semoga ketika saya berkunjung ke Makassar lagi, saya bisa tetap menemukan hal-hal yang unik dan menarik di sana🙂


19 responses to “Salamakki Battu Ri Mangkasara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: