Yang Unik dan Yang Asyik di Makassar

Karebosi Link

Sebenernya tulisan-tulisan saya tentang Makassar ini adalah lanjutan dari tulisan yang terdahulu, karena memang apa yang ada di kepala saya belum semuanya dituangkan ke dalam tulisan, padahal kunjungan saya ke Makassar kira-kira sudah hampir enam bulan yang lalu. Penyebabnya ada beberapa hal sih, selain kesibukan pekerjaan yang luar biasa, faktor lain yang menyebabkan tulisan saya tentang Makassar ini terhenti adalah karena kamera kakak saya (yang waktu itu juga pergi ke Makassar bareng), hilang dijambret orang di Bali, tepat sebelum kembali ke Darwin, Australia. Jadi ya..sedih deh karna foto-foto kami hilang..😦

Kamera kakak yang hilang itu sudah mendapat ganti dari asuransi setempat, tapi rasa kecewa karna foto yang hilang masih tetap ada. Berbekal foto yang tersisa dari kamera HP butut, berikut ini adalah sedikit cerita tentang hal-hal yang unik dan yang asyik di Makassar. Cekidot!

Makassar Tidak Kasar!

Jika anda adalah orang asli Jawa yang baru pertama kali berbicara sama orang Makassar, pasti anda akan kaget. Orang2 Makassar mempunyai nada bicara yang lumayan tinggi, mirip seperti orang yang sedang marah2, padahal sebenarnya enggak. Jadi jika dalam bahasa Jawa kalimatnya seperti ini; ‘ Kamu dari mana saja? kok baru pulang? ‘, maka di Makassar akan jadi seperti ini; ‘ Kamu dari mana saja! kok baru pulang! ‘, tenang.. mereka bukan marah-marah kok, memang nada bicaranya saja yang seperti itu, aslinya orang-orang Makassar baik-baik dan ramah kok. Trust me🙂

Penggunaan Partikel dalam Kalimat

Saya ini termasuk yang sering bengong ketika sedang berada di tengah-tengah pembicaraan teman-teman asli Makassar. Selain bicaranya yang cepet, mereka juga selalu menambahkan partikel di setiap kalimat. contohnya adalah ‘ji’ , ‘mi’ ,dan ‘ki’. Enggak ada arti khusus dalam partikel ini, penggunaannya mungkin mirip ‘to’, ‘ik’ dan ‘ok’ dalam bahasa Semarangan. contoh kalimatnya adalah ‘ nggak tau mi ‘ yang artinya sama dengan ‘nggak tau ik’. Ya begitulah. *puyeng*😀

Makassar dan Mobil Tua

Berada empat hari di Makassar cukup bagi saya untuk mengamati apa-apa yang unik, termasuk gaya hidup masyarakatnya. Dan sejauh mata memandang, saya hampir tidak bisa menemukan keberadaan mobil-mobil tua disana. Setiap mobil yang melintas di depan mata saya adalah mobil baru, maksud saya, mobil keluaran tahun 2000-an and so on. Berbeda dengan Jawa yang kadang masih bisa ditemukan mobil keluaran tahun 90-an dan bahkan dibawahnya. Sempat bertanya dengan salah seorang teman disana, katanya sih karena orang Bugis yang gengsinya tinggi. Benar atau tidaknya, saya tidak tahu🙂

Sebutan atau Panggilan

Aduh saya sempat salah tingkah deh karena nggak tahu harus memanggil pake sapaan apa. Kalau di Jawa sih setiap lelaki yang lebih tua dari kita bisa kita panggil ‘mas’. Nah kalau di Makassar? Setelah sempat tanya sana-sini, saya akhirnya tahu kalau panggilan bagi lelaki yang sudah menikah dan lebih tua dari kita maka biasanya dipanggil ‘Daeng’. Sejauh ini sih teman2 saya selalu berterimakasih kalau dipanggil Daeng. Tapi denger-denger kita harus berhati-hati juga pakai kata sapaan yang satu ini, jangan sampai yang disapa malah tersinggung. Kalau untuk orang yang lebih tua dari kita, secara umum, panggilan atau sapaannya adalah ‘kakak’.

Notes : panggilan atau sapaan di setiap daerah berbeda-beda. Daripada salah sebut, mending tanya dulu, daripada sok akrab tapi ternyata malah bikin tersinggung.🙂

Kapal Besar di Dalam Mall

Bepergian ke mall saat liburan di luar kota atau luar pulau sebenarnya sangat tidak disarankan. Yaiyalah, masa pergi jauh2 keluar pulau cuma berkunjung ke mall? Eits, jangan salah, kadang bepergian ke mall nggak ada salahnya juga loh. Sekedar sight seeing aja, alias melihat-lihat di dalam mall, siapa tahu menemukan sesuatu yang unik. Seperti kapal yacht besar yang ada di dalam TransMall Makassar ini. Tiang layarnya yang tinggi bahkan sampai tembus ke lantai tiga tempat saya mengambil foto.

kapal besar di dalam mall

Akhiran ‘g’

Anda pasti tahu kalau orang Sunda mempunyai kebiasaan unik mengucapkan huruf  ‘ f ‘ menjadi ‘ p’ seperti pada kata ‘ pasif ‘ yang akan diucapkan menjadi ‘pasip’ , nah kalau orang Makassar lain lagi, mereka ini mempunyai kebiasaan menambahkan huruf  ‘ g ‘ pada setiap kata yang berakhiran dengan huruf ‘ n’ . Misalnya  ‘ lain ‘ menjadi ‘ laing ‘ , ‘angin’ menjadi ‘anging’ dan seterusnya.

Utamakan Pemakaian Bahasa Indonesia

sambil khawatir takut ketrabrak😀

Saya menemukan tulisan ini di jalan Riburane. Perlu sedikit kesabaran untuk bisa memotret papan ini. Soalnya jalan raya nya rame banget hihihi..Nah untuk makna dari tulisannya sendiri sih katanya karena sebagian masyarakat Makassar masih sering menggunakan bahasa Bugis untuk percakapan sehari-hari nya, jadi pemerintah setempat menyarankan untuk mengutamakan pemakaian bahasa Indonesia.

Sepanjang Jalan Somba Opu

Somba Opu adalah nama sebuah jalan raya yang cukup panjang di Makassar, dekat dengan pantai Losari. Ada apa di sana? banyak! bisa dibilang jalan ini adalah tempat pusat oleh-oleh di Makassar. Puluhan toko oleh-oleh dan toko emas berjajar rapi di sana. Satu di antaranya adalah Toko Ujung. Nggak perlu susah2 untuk menemukan toko ini, cari saja yang letaknya di ujung😀 *serius* . Ada apa di sana? ada berbagai macam oleh-oleh khas makassar dan Sulawesi dari mulai kopi toraja, songkok, sirup markisa, sampai kain-kain tenun dan ukiran-ukiran. Lengkap banget. Satu hal yang menarik, kalau anda beruntung, anda bisa bertemu langsung dengan pemiliknya, yaitu kak John Cendra yang juga seorang blogger dan member dari komunitas Anging Mammiri.. hihi..

Toko oleh-oleh dan toko emas di sepanjang jalan Somba Opu

Belajar Bahasa Makassar Sedikit Sedikit

Belajar banyak bahasa daerah memang selalu menyenangkan ya, walaupun agak susah, tapi saya ingin sedikit mengenal bahasa Makassar. ” Salamakki Battu Ri Mangkasara ” artinya adalah “Selamat datang di Makassar”. untuk menyebut diri sendiri biasanya memakai kata ‘Saya’ karena kata ‘Aku’ dianggap agak menyombongkan diri. ya mungkin mirip2 pandangan orang jawa tengah kepada orang yang bilang ‘gue-elo’ gitu. “bikin” artinya “lagi’ . contoh kalimatnya “bikin apa?” atau “bikin apa ki?” maksudnya adalah menanyakan “lagi ngapain?” atau “Sedang apa?”. “Sa” bisa juga berarti “saya” contoh kalimat ” Sa juga menunggu disana” artinya “Saya juga menunggu di sana”. “kodong” artinya “kasihan”. “Ole-ole” artinya Oleh-oleh, sedangkan “Pete-pete” dengan pengucapan huruf “e” seperti dalam kata “cafe” adalah sebutan untuk angkot, atau kendaraan umum. Pete-pete berasal dari kata Public Transportation yang disingkat menjadi “PT” dan diulang. Jadilah Pete-pete. Nggak banyak sih kata-kata yang saya pelajari, karena memang yang mereka gunakan adalah bahasa Indonesia yang ditambahi partikel seperti yang sudah saya tulis di atas tadi. Bahkan kak Nanie sampai bilang ” Masa kamu nggak mengerti bahasa kami? padahal ini kan sama seperti bahasa Indonesia yang cuma ditambahi partikel saja” hihihi…

Aksara Lontara

Kalau di Jawa ada aksara Jawa Hanacaraka, maka di Makassar ada aksara lontara. Ini adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Kalau anda pernah bepergian ke Jalan Malioboro Jogjakarta, maka anda akan melihat papan-papan hijau bertuliskan nama jalan yang menggunakan aksara jawa. Sama seperti di Jogja, papan-papan nama jalan di Makassar juga ditulis dengan aksara lontara. Unik! selengkapnya tentang aksara lontara bisa dilihat di sini.

plat nomer kendaraan di Makassar


17 responses to “Yang Unik dan Yang Asyik di Makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: