Enterpreneur vs Social Enterpreneur

Hari Minggu, tepat seminggu kemarin, kebetulan saya diajak oleh beberapa teman untuk mengikuti acara rutin Jaringan Rumah Usaha (JRU) yaitu ForWed, alias Forum Wedangan. Mendengar bahwa akan ada pak Rhenald Kasali sebagai pembicara di hari itu, tentu saja saya tambah semangat, (walaupun pertamanya saya salah mengira bahwa pak Rhenald Kasali adalah pak Efendi Ghazali :D), yang biasanya paling males kalau pergi ke tempat yang belum tahu persis lokasinya (tukang nyasar) plus panas-panasan jam 12 siang pun saya jalani, demi bertemu pak Rhenald Kasali. Orang “besar”, pasti ilmunya juga besar, pikir saya.

Bertempat di Salma Card, jl Brotojoyo Semarang, semua peserta ForWed yang hampir semuanya pengusaha top Semarang itu tampak sibuk menyiapkan semua perlengkapan acara. Ada yang sibuk foto2 dengan kamera kerennya, ada yang menyiapkan hidangan, ada yang sibuk ngobrol2 dengan rekan yang lain.. Satu yang saya amati dari mereka semua, adalah wajah-wajah yang bahagia, wajah wajah yang seakan hidupnya tanpa beban, bahkan tertawa pun kayaknya bisa puas banget, lepas banget. Beda dengan orang2 kantoran yang biasanya serius-serius dan tampak banyak beban di mukanya. Sebagai mantan karyawan tentu saja saya tahu persis perbedaannya..hehe..

Rhenald Kasali. Beliau yang selama ini hanya saya dengar nama besarnya, dan kadang saya lihat beberapakali di layar kaca, siang itu ada di depan saya. Nyata. Penampilan yang santai dan gaya bicaranya yang komunikatif tanpa sedikitpun kesan menggurui dengan serta merta membuat saya terbuai. Serasa ikut masuk dalam tiap cerita yang beliau sampaikan.

Karena Forum Wedangan adalah forumnya para pengusaha alias enterpreneur, maka topik yang beliau sampaikan juga enggak jauh-jauh dari dunia enterpreneur. Bedanya, kali ini pak Rhenald Kasali mengangkat topik Social Enterpreneur. Apa itu Social Enterpreneur? Apa bedanya dengan Enterpreneur biasa?

Jika Enterpreneur memikirkan bagaimana caranya agar usahanya selalu sukses, mendapat banyak keuntungan, dan bertahan lama, maka Social Enterpreneur adalah pengusaha yang tak hanya memikirkan ketiga hal tersebut, tapi juga memikirkan bagaimana caranya agar usahanya itu bisa memberi keuntungan juga bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Kira-kira seperti itu perbedaan mendasarnya.

Pak Rhenald Kasali memberikan contoh dengan cerita pengalamannya ketika berkunjung ke pulau Buru, maluku. Disana beliau melihat banyak sekali sapi di sepanjang jalan, sapinya besar-besar nan gemuk yang ternyata dijual dengan harga sekitar 4 jutaan saja..padahalll… dengan ukuran sebesar itu, di pulau Jawa bisa mencapai 15 juta, bahkan lebih! bayangkan saja keuntungan yang bisa diraih beliau jika menjualnya di jawa. Sebagai seorang enterpreneur tentu saja insting bisnis pak Rhenald langsung jalan. Tapi karena beliau menyebut dirinya sebagai Social Enterpreneur, maka cerita nggak berhenti sampai jual-beli sapi-dapet untung besar saja.

Singkat cerita, beliau lalu menjalin kerjasama dengan beberapa pihak seperti teman-temannya ahli peternakan dan penduduk asli pulau Buru. Dengan temannya yang ahli peternakan beliau dibantu untuk menganalisa apakah sapi2 liar itu layak untuk dikonsumsi, dan ternyata tidak layak. Karena sapi tersebut liar, maka yang dimakan pun sembarangan, termasuk sampah plastik yang kotor dan akhirnya menyebabkan cacing hati pada sapi tersebut. cara menyembuhkannya ya tentu saja dengan perawatan ala peternakan jadi makannya bisa terkontrol. Nah disini pak Rhenald pun mengajak kerja sama dengan penduduk sekitar untuk membuat peternakan2 sapi, sekaligus menerangkan apa saja keuntungannya jika sapi sapi itu dirawat dengan baik, tentu saja si pemilik sapi juga akan mendapat keuntungan finansial yang tidak sedikit kan? semua kebagian untung, semua kebagian rejeki.

photo by Munif

Menurut pak Rhenald Kasali, menjadi seorang social enterpreneur juga secara tidak langsung ikut membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan lho.. Masuk akal sih, karena mereka menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus penghasilan bagi orang-orang yang mungkin tidak tahu kalau di sekelilingnya ada sesuatu yang bermanfaat, seperti sapi-sapi liar di pulau Buru tadi. Tentang bagaimana caranya, nah itu tugas seorang Social Enterpreneur untuk mencari tahu. Jadi, nggak usahlah kita ikut-ikutan protes dan ikut demo sana sini menyuruh pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan, mending kita langsung ambil tindakan nyata saja, mengurangi angka kemiskinan dengan menjadi social enterpreneur. Lebih mulia kan?🙂

Acara Forwed kemarin tambah seru ketika Pak Prie GS ikut maju ke depan. Prie Gs yang memang kocak itupun langsung membuat suasana jadi tambah meriah dengan guyonan-guyonan khasnya. Di sini beliau menekankan bahwa untuk bisa menjadi orang yang peduli dengan lingkungan sekitar, maka kita harus memulainya dengan peduli kepada lingkungan internal, contohnya keluarga. Karena semua hal yang baik pasti dimulai dari keluarga yang baik. Setuju enggak?

point-point penting lain yang saya rangkum dari hashtag #forwed di twitter dari pembahasan Social Enterpreneur ini adalah :

– Enterpreneur adalah orang yang melakukan inovasi usahanya sehingga memungkinkan untuk terus dikembangkan.

– Enterpreneur itu nggak takut kesasar, berani mencoba, dan berani mengambil risiko

– Begitu manusia tidak mau berpikir lagi karena kenyamanan, itu tandanya manusia tersebut sudah ‘mati’.

– Hal yang membedakan antara orang hidup dan orang mati adalah dinamisme. Begitu kaku, maka kita ‘mati’.

– Kalau pemerintah ‘mati’ dan nggak bisa diandalkan, kitalah yang harus bergerak untuk mengubah.

– lupakan berteriak kepada pemerintah, mulailah bentuk jaringan enterpreneurship untuk keseimbangan bangsa.

– prinsip social enterpreneurship yaitu tidak menimbulkan ketergantungan pada penerima bantuan.

– Yang bisa menciptakan keadilan sosial ya kita-kita sendiri.

– Seorang enterpreneur harus jeli menangkap peluang sekecil apapun.

– Kalau sesuatu terdengar begitu indah, maka itu adalah kebohongan. misal : “Cepat Kaya tanpa Modal”, “Jurus Cepat Kaya”, dll😀

– Social enterpreneur nggak cuma memikirkan untung semata tapi juga bagaimana membantu sesama.

– yang dicari dari social enterpreneur itu adalah kebahagiaan, bukan menghabiskan dan menutup jalan rejeki orang lain.

– Prinsip itu untuk dipegang teguh, bukan dipamer-pamerin. Dalam melaksanakannya harus bijak.

– Social enterpreneur itu berbeda dengan aktivis sosial. Kalau aktivis sosial biasanya menunggu dan mengumpulkan bantuan untuk bergerak, kalau social enterpreneur bergerak tanpa menunggu.

Ilmunya banyak banget ya? saya aja sampe rela bolos kuliah demi bisa mengikuti acara ini sampai tuntas. Kapan lagi gitu bisa bertemu dan menyerap ilmu dari pak Rhenald Kasali dan Prie Gs? Nah sekarang pertanyaannya, anda pilih yang mana, jadi enterpreneur biasa atau social enterpreneur? kalau saya sih, pengen jadi social enterpreneur saja ah😀


5 responses to “Enterpreneur vs Social Enterpreneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: