Motivator, Pentingkah?

Tadi malam saya iseng bikin survey-survey an di twitter. Saya bertanya; Menurut kamu, motivator itu perlu nggak sih? dari 6 reply yang masuk, 5 di antaranya bilang ‘tidak perlu’, sisanya menjawab ngawur ( –” ). Masih di twitter juga, beberapa kali saya melihat ada teman yang secara terang2an menuliskan ketidaksukaan nya kepada seorang motivator. Ada yang menyindir, ada pula yang secara frontal me-retweet sambil menambahi komentar cukup pedas terhadap akun sang motivator. Saya masih belum paham, apanya yang salah? kenapa mereka nggak suka?

Saya pribadi, sebagai seseorang yang sedang berada dalam masa-masa transisi (halah), saya mengikuti beberapa akun twitter yangย  sehari-harinya menulis tentang kata-kata penyemangat, kata-kata indah yang memotivasi. Saya berharap bisa selalu menjadi orang yang bersemangat setelah membaca twit-twit mereka. Untuk acara yang mengundang motivator, seingat saya, baru dua kali ikutan. Itupun karna acara kantor. Yang saya rasakan? energi dan semangat yang luar biasa. Tapi setelah acara selesai, ya sudah, semangatnya juga selesai. Saya bahkan lupa nama motivatornya.. hehe..

Di sisi lain, teman-teman saya yang pro motivator pun juga gak kalah banyak. Beberapa di antara mereka memasang screenshoot kutipan kata-kata sang motivator di facebook, memasangnya sebagai Display Picture di Blackberry Messanger, mengutipnya menjadi status, rela menunda waktu istirahat malam demi bisa menonton acara sang motivator di tivi. Menjadikan sang motivator idola baru, membeli buku-bukunya…oke, sampai di sini saya masih belum paham mengapa ada pro dan kontra tentang motivator.

Hingga pada suatu malam di sebuah toko buku, saya melihat sebuah buku yang ternyata adalah buku best seller milik seorang motivator, dipajang di dekat meja kasir, dan mau nggak mau, setiap mata tertuju ke buku itu ketika membayar. termasuk saya. Saya lalu bertanya kepada teman saya yang bisa dibilang cukup ‘ngehits’ itu..hehe.. ” mbak, kenapa sih kalo di twitter kok kayaknya pada nggak suka sama motivator yang itu? (sambil nunjuk buku best seller di belakang kasir). Emang dia salah apa? (yaya.. pertanyaanku polos banget, kayak orangnya..๐Ÿ˜€ ) ” dan ini jawabannya : ” oh, soalnya dia (motivator) itu sering pake cara yang salah kalo mau memotivasi orang, kadang dia ngledekin kaum tertentu sebagai alat memotivasi.. ” saya kaget dan terperanjat sampai mau meloncat.. *halah* . Seperti bisa membaca raut muka bingung saya, si mbak temen saya yang ngehits itu langsung nunjukin twit dari sang motivator yang kebetulan sempat terbaca dan di retweet banyak orang. bunyinya kira-kira begini (saya agak lupa kata-kata tepatnya) : “cowok yang nggak berani nglamar cewek yang udah dipacarin lama itu mending dikasih jilbab aja deh..blablabla” hmmm… mungkin maksudnya untuk memotivasi ya,biar cepetan nglamar si cewek tanpa ragu lagi, tapi kok tetep aja kurang enak di denger ya? nggak adakah kata2 yang lebih halus lagi? oke, “cowok mending dikasih jilbab”, atau “dikasih daster”, atau “dikasih lipstik”, mungkin adalah kata2 guyonan yang sering kita dengar, bahkan kita ucapkan kepada teman, tapi kan dia motivator? dan yang membaca twitnya kan bukan cuma teman dekat yang biasa kita becandain kayak gitu, yang membaca puluhan ribu orang yang mungkin akan tersinggung. Mungkin disana sedang ada cowok yang belum berani melamar pacarnya karna masalah restu orang tua, atau sedang dalam ikatan dinas jadi belum boleh menikah, dan hal-hal lainnya yang mungkin nggak terpikirkan oleh sang motivator saat nulis twit tersebut. Apa mereka perlu dikasih jilbab juga? Saya pun mulai berpikir.

“Yang bikin sebel lagi, motivator-motivator itu biasanya matok tarif yang mahalnya nggak kira-kira, sampai puluhan juta rupiah, hanya untuk ngomong yang bagus-bagus, selama beberapa jam. Padahal, setelah acara selesai, belum tentu kan pesertanya masih bersemangat?” kata teman saya lagi. Saya jadi inget sama pengalaman yang sudah saya ceritakan di atas tadi. Bener juga ya, abis selesai acara saya bahkan nggak inget siapa nama motivatornya. Saya mikir lagi, kalo cuma buat ngomong yang bagus-bagus mah, semua orang juga bisa, tinggal nambahin skill komunikasi dikit aja sebagai bekal keberanian ngomong di depan orang banyak. Dengan adanya “tarif mahal” ini, tentu saja cap jelek dengan sendirinya mampir kepada sang motivator.

Balik ke akun twitter motivator yang saya ikuti tadi. Ceritanya pemilik akun mengadakan program mentoring bisnis gitu deh, gratis. Untuk mengikutinya, para followers diharuskan ikut seleksi saringan yang dibagi menjadi beberapa tahap untuk menentukan 20 peserta dari seluruh Indonesia yang berhak mengikuti program. Saya langsung ikut saja, kebetulan saya sedang butuh ilmunya, pikir saya. Email pertama masuk. Saya diharuskan mengisi form online yang isinya data diri dan alasan mengapa saya harus dipilih jadi peserta. Satu yang enggak saya suka, setiap habis submit form saya diharuskan menulis twit yang isinya mempromosikan program tersebut. Jadi spammer gitu deh. Saya sampai nggak enak hati sendiri. huh!

Lolos saringan pertama, saya diharuskan untuk mengirimkan beberapa data lagi via email dan lagi lagi.. harus jadi spammer di twitter. Sebenarnya ini sudah bertentangan dengan prinsip saya yang anti spam (apadeh) di dunia maya, tapi mau tak mau saya harus melakukannya juga. Kapan lagi gitu bisa dapet ilmu gratis. Di sini saya masih berpikiran bahwa si pemilik akun adalah motivator yang lain daripaad yang lain. Makanya saya lanjut aja.

Sampai pada email saringan yang ketiga, terkuaklah semua misteri yang selama ini menyelimuti akun tersebut (kok kayak film horor). Bunyi emailnya kira-kira seperti iniย  ” Selamat.. kamu berhasil lolos di saringan ke tiga (tahu kali pake saringan segala), sebelum ikut program mentoring, kami mau agar anda membentuk mental pengusaha dulu biar nantinya nggak kaget dan siap kami didik keras menjadi pengusaha dengan omzet milyard-an! bagaimana caranya? pertama-tama kamu harus ikut ‘camp’ dulu selama beberapa hari dan untuk bisa ikut camp tersebut, kamu bisa langsung transfer uang sebesar 4,5 juta ke rekening yang ada di bawah ini. Apalah arti 4,5 juta dibanding omzet kamu yang milyard-an nantinya? pak X saja rela terbang jauh-jauh dari Singapura demi ikut acara ‘camp’ ini, masa kamu yang di indonesia saja nggak mau ikutan?….” what the hell..

Antara gonduk, tapi juga geli, plus malu. Saya jadi tertawa sendiri waktu itu. Hahaha.. ya gitu deh.. tau kan perasaan saya kayak gimana? Malu karna saya udah jadi spammer di twitter. i promise i wont do that sh*t again!!

Lagian kalaupun saya beneran mau jadi pengusaha, lha ya mending uang 4,5 juta itu saya pakai untuk modal awal, untuk kulakan misalnya, atau untuk apapun itu yang bisa jadi langkah awal jadi pengusaha. Di sini kepercayaan saya terhadap motivator-motivator an itu mulai luntur. Saya mengerti sekarang kenapa sebagian teman-teman saya terang-terangan membenci mereka.

Pertemuan saya dengan pak Rhenald Kasali tempo hari semakin menguatkan saya kalau motivator2 itu sebenarnya nggak perlu-perlu banget. Beliau berkata bahwa ‘setiap hal yang terdengar begitu indah itu biasanya kebohongan’. Nyatanya memang begitu sih, saya sendiri mengalaminya. Jadi nggak perlu lah beli buku-buku yang ‘terlalu indah’ macam “cara cepat jadi kaya” atau “cepat kaya tanpa modal” dan sebagainya.

Beberapa teman yang nggak suka sama motivator, berpendapat bahwa motivator yang paling manjur ya, diri kita sendiri. Maksudnya, yang bisa bikin kita bersemangat dan mampu bangkit dari keterpurukan ya kemauan dari dalam diri kita sendiri. Saya pikir itu ada benarnya. Motivator itu hanyalah mediator. Dia menyampaikan kata kata indah, agar kita bersemangat lagi, agar kita bisa bangkit lagi.

Saya pikir mulai sekarang saya harus mengurangi (atau malah berhenti) mendengarkan kata2 dari para motivator itu. Untuk referensi kata2 mutiara sesekali bolehlah. Tapi jangan sampai akal sehat kita juga ikut terpengaruh, apalagi ikut meniru kata2 motivasi yang tidak pantas dan berpotensi menyinggung orang lain. Dia bukan malaikat, dia cuma dianugerahi kemampuan bicara yang bagus. Selebihnya sama saja. Saya nggak menyalahkan anda yang suka nonton acara motivasi lho ya, saya cuma memaparkan apa yang selama ini diributkan tentang motivator. Silahkan saja kalau anda suka, tapi pesan saya, anda tetap harus pandai memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Ingat, motivator terbaik adalah diri sendiri! kalau saya sih setuju sama pernyataan ini, kalau anda bagaimana?๐Ÿ˜€

ps : mohon maaf kepada teman-teman pemilik akun twitter pada gambar di atas jika tidak berkenan.


5 responses to “Motivator, Pentingkah?

  • airyz

    aku ngerti iki.
    ncen motivator kui kudune soko pengalaman awake dewe๐Ÿ˜

  • mailuvohmailuv

    Benar sekali, motivator hebat itu ada dalam jiwa masing2, karena dia-lah yg tahu benar apa yang ada dalam diri itu sendiri, Yang kita perlukan adalah, mengisi tiap hari jiwa dan pikiran oleh2 hal2 yg positif, adapun yg negatif kita olah menjadi hal yg bisa bermanfaat, Itulah dalam kitab suci selalu disebutkan keistimewaan “orang-orang yang berpikir”, Motivator yg aku lihat skrg(tidak semua sih) adalah pebisnis, atau tak lebih dari pengusaha yang jeli melihat peluang dan “kelemahan” dari masyarakat. Dari kelemahan itu ia membuat model yg ini itu, dan buntutnya transfer atau bahasa kasarnya “bayar coi, ngak ada yg gratis di dunia ini”, nah, motivator yg demikian paling doyang ngomong di depan publik dan mendapatkan bayaran untuk kehidupan mewahnya lalu pamer2, #eh, Jadi motivator yg baik itu adalah dari dalam yg dibalut oleh keyakinan atau kepercayaan yg kuat..

    Jadi, untuk menghilangkan kekecewaan, kita bermain kata-kata saja, bagaimana mbak?,
    nah permainannya adalah, sebutkan beberapa profesi yg berakhiran “or”. , oke saya mulai dulu ya…
    1. kondektor.
    2. Kontraktor
    3. Tukang molor.
    4. Penjual Pisgor (pisgor = pisang goreng)
    5. Tukang servis Generator .
    ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    makasih…
    mari tertawa setiap hari selain awet muda juga menghambat zat2 yang membuat stress di kepala. Dan kalau kita udah senang maka kehadiran motivator ngak usah terlalu diladeni, biarkan ia ikut kompetisi idol-idol yg lama kelamaan jadi dodol.

    salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: