Maraton Nonton

gambar diambil dari sini

Idealnya maraton nonton dilakukan di rumah sambil bersantai saat libur dengan agenda utamanya memutar setumpuk vcd/dvd baik itu milik sendiri atau sewaan, berlanjut dari satu film ke film berikutnya, begitu terus sampai bosan. Tapi kalau maraton nonton di bioskop, nah, itu yang baru saya lakukan kemarin. Film yang saya tonton yaitu Di Timur Matahari dan Prometheus. Film pertama bayar sendiri, film kedua ditraktir.

Di Timur Matahari

gambar diambil dari sini

Saya sebenernya paling males sama film Indonesia, tapi karena mendengar dari sana sini tentang keindahan alam yang katanya diekspos besar-besaran di film ini, akhirnya saya tergoda juga untuk menonton. Masih tentang anak kecil dan Papua, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale (Alenia Production) tampaknya ingin mengulang kembali kesuksesan film pertamanya di tahun 2006 yang masuk ke seleksi piala Oscar 2008 kategori film asing : Denias, Senandung di atas awan.

Film yang berlatar belakang perbukitan Tiom ini sukses membuat saya terhibur. Ceritanya dapet, komedinya dapet, pelajarannya juga dapet. Keindahan alam yang terekam kamera juga cukup spektakuler, bukit-bukit hijau yang sejuknya sangat terasa, kabut-kabut tebal dan tebing-tebing tingginya juga memukau.

Entah disengaja atau tidak, cerita di film ini menggambarkan tentang peperangan antar desa yang memecah hubungan persaudaraan di bumi Papua, persis seperti keadaan sebenarnya yang terjadi saat ini. Tapi tentu saja seperti film-film keluarga pada umumnya, akhir cerita selalu dibuat indah, dengan adanya perdamaian,  kebersamaan, ya gitu-gitulah..hehehe..

Yang menarik, adat istiadat di Papua masih kental terlihat di film ini. Mulai dari bentuk rumah, pakaian, senjata, upacara-upacara adat, dan tentu saja bahasa. Sayangnya kadang dialog-dialog itu nggak bisa saya dengar dan saya pahami dengan jelas karena beberapa bahasa daerah yang tidak saya mengerti, logat bicara yang terlalu cepat, yang hanya terdengar samar-samar dan tanpa subtitle bahasa Indonesia. Satu yang menarik perhatian saya adalah gigi orang-orang Papua. Ya, meskipun mereka tinggal di pedalaman yang apa-apa susah, makanan juga seadanya, namun gigi mereka, baik yang masih kecil atau kepala suku yang sudah tua, semuanya bagus-bagus. Rapi, bersih, dan terlihat kuat. Mungkin ini karena kebiasaan mereka yang kalau di Jawa Tengah disebut ‘nginang’ kali ya?

Entah kenapa saya nggak bisa puas kalo abis nonton film Indonesia. Pasti ada aja yang kurang, entah itu anti-klimaks yang aneh dan nggak natural, atau perkenalan yang terlalu lama kemudian pas masuk inti cerita malah cepet banget dan nggak maksimal, dll. Begitu pula di film ini, anti-klimaksnya terasa aneh dan wagu. Adegan anak kecil menyanyi di tengah peperangan sengit, kemudian mendadak semua terdiam, bergandengan tangan dan menyanyi bersama itu menurutku wagu..hehe.. never mind, it’s just me. Tapi overall, film ini bagus. Tinggal tunggu saja, apakah bukit Tiom ini akan berubah nama menjadi Bukit di Timur Matahari seperti Pantai Laskar Pelangi, atau pantai Leonardo Di Caprio, Pulau Angelina Jolie (Tomb Raider) dan James Bond nantinya.. hehehe.. ups!

Prometheus

gambar diambil dari sini

Setelah sempat akan menonton MIB3, kemudian batal dan berganti Snow white and The Huntsman, akhirnya pilihan malah jatuh ke film Prometheus. Kenapa? Ya karena yang mau nraktir nonton maunya film itu, jadi ya bagaimana lagi,.😐

Inti cerita ini adalah ekspedisi ke luar angkasa dalam rangka mencari Tuhan, mencari asal-usul manusia. Berharap bisa menemukan alasan mengapa manusia diciptakan untuk kemudian dimusnahkan kembali (mati), syukur-syukur bisa membujuk Tuhan biar kita nggak usah atau nggak jadi dimatiin.

Agak mudah ditebak sih sebenernya, karena semua film luar angkasa pasti ya, kalau nggak ketemu monster atau alien, pesawatnya kecelakaan, kekurangan oksigen, bla-bla-bla, bla-bla-bla. Tapi adegan kejar-kejaran dan panik-panik-annya cukup membuat jantung mau copot sekaligus perut mual sampe mau muntah beneran, terutama di adegan yang ‘berlendir-lendir’ dan berdarah-darah. Saya bahkan hampir muntah pas nonton adegan di automatic surgery machine dimana si tokoh utama nekat melakukan persalinan sendiri karena ternyata janin yang ada di rahimnya adalah calon alien. Hoek!

Pelajaran yang dapat diambil dari film ini kurang lebih adalah tentang etika. Intinya kalau sedang ‘bertamu’ ya jangan ‘usil’ kalau nggak mau ‘dimarahi’ sama tuan rumah. Selain itu, film ini juga mengingatkan saya sama perkataan guru agama saya pas sekolah dulu, bahwa kita sebagai manusia itu wajib percaya bahwa Tuhan itu ada, namun untuk membuktikan keberadaan Tuhan itu nggak perlu sampai mencari, karena bisa bikin gila. Kenapa? Ya karena akal kita nggak akan mampu dan nggak akan kuat untuk mengerti itu semua. Kira-kira begitu.

gambar diambil dari sini

Anyway, terimakasih banyak buat @wa_tayux , @dhianivanna serta @dewantakrisna as a partner of Maraton Nonton weekend ini!


One response to “Maraton Nonton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: