Marketing (Teori vs Realita)

Pas kuliah D3 sekian tahun yang lalu, saya paling suka sama mata kuliah marketing atau Manajemen Pemasaran. Satu, karena dosennya smart banget, dua, karna materinya asyik banget, cocok buat orang2 yang kreatif dan imajinatif seperti saya hehe..(PD banget ya ben!). Saya bisa tau apakah dosen itu menyenangkan atau tidak, smart atau tidak, bikin ngantuk atau tidak, bahkan dapet nilai berapa saya besok di mata kuliah tersebut saya sudah tau, dari pertemuan pertama. Dan dosen yang satu ini, meskipun cuek dan kadang ngomongnya pedes, tapi saya yakin akan bisa melewati hari-hari perkuliahan Manajemen Pemasaran yang menyenangkan bersamanya..

Yang kedua, ternyata kuliah Marketing ini materinya sungguh mengasyikkan. Meskipun bukunya tebel-tebel dan bahasa inggrisan semua, tapi nyatanya saya seneng banget. Disitu diajarkan teori pemasaran dari A-Z. Bagaimana cara membuat iklan yang bagus, jenis-jenis pendekatan kepada konsumen, Cara promosi produk yang tepat sasaran, diskusi tentang iklan2 di tipi, event2 perusahaan yang digelar dalam rangka launching produk baru, dan sebagainya, dan sebagainya..pokoknya saya seneng banget! Saking senengnya, sampai sampai Tugas Akhir saya waktu itu mengambil permasalahan di bidang Marketing. Dalam bahasa inggris pula. Tentang langkah apa saja yang sudah dilakukan Bank X untuk mempromosikan produk tabungan barunya, mengumpulkan brosur-brosur, menganalisis segmen, blablabla, sayangnya hanya karena saya salah menjawab satu pertanyaan yang nggak saya duga pas sidang, saya cuma dapet B saja..😀

Bahwa kalimat ‘dunia kerja nggak seindah dunia kuliah’ itu ternyata memang benar adanya. Berbekal kecintaan dan keahlian saya di mata kuliah Marketing, setelah lulus saya langsung mencari lowongan2 marketing itu secara membabi buta (lebay). Nglamar sana sini sambil membayangkan serunya bikin iklan, mencari ide dan mereka-reka sebuah konsep promosi biar produk baru laku keras. Wow!

Sayangnya semua itu harus sirna ketika saya pada akhirnya tahu bahwa yang namanya marketing/ sales di sebuah perusahaan itu, KEBANYAKAN, adalah mereka yang berada di level paling bawah, keluar dari ruangan kantor yang ber AC, naik motor panas-panas, bertarung melawan debu dan polusi, datang dari satu pintu ke pintu lain, menawarkan produk, ditolak, dicuekin, masih harus ditarget lagi. Klimaksnya, dipecat dari kantor karna tidak memenuhi target. huhuhu..

Di perusahaan yang lebih besar seperti perbankan, marketingnya lebih keren. Pakaian rapi, berdasi, kemana-mana naik mobil, tapi pekerjaannya sama aja, merayu, berbasa-basi, kadang sampai memohon-mohon..bukan aku banget. Belakangan saya tahu, marketing yang hampir sama seperti teori kuliah itu hanya ada di level manajerial. Dan untuk mencapai level yang seperti itu, tentu saja harus melewati tahapan-tahapan marketing yang sudah saya ceritakan di awal.

Perbedaan yang begitu ekstrimnya tentang marketing secara teori kuliah dan realita ini mau nggak mau ikut membuyarkan semua imajinasi saya. Dan sejak saat itu, saya mencoret semua lowongan yang di dalamnya ada keywords berikut ini : marketing, target, memiliki kendaraan sendiri, dsb. nggak peduli mau berapapun bonusnya, apa fasilitasnya, serta seberapa tinggi tantangannya, yang jelas selama ada pilihan selain jadi marketing, saya milih yang lain..hehe.. *piss*😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: