Harus Bagaimana

Saya ingin menceritakan tentang dua orang, atau tepatnya dua rekan yang lumayan dekat, tentang kesamaan sikap mereka yang membuat perasaan saya jadi campur aduk; ya geli, ya sebel, ya kecewa..pokoknya sampai membuat saya rasanya ingin tertawa, atau lebih pasnya, menertawakan diri sendiri..

Yang pertama adalah rekan dekat saya di kantor dulu. Kami dekat. Saking dekatnya sampai kadang sering nongkrong bareng, curhat masalah pribadi tanpa malu, curhat masalah kantor, bahkan kadang janjian bolos kerja..😀 . Sama seperti saya yang sudah mulai galau karna nggak betah dan pengen cepet-cepet resign, ternyata dia pun merasakan tekanan yang sama. Bedanya, kalau saya lebih banyak diam dan berpikir tentang langkah apa yang harus saya ambil demi bisa terbebas dari tekanan pekerjaan, dia lebih bawel, setiap hari selalu bilang capek, bosan, mengeluh sana, mengeluh sini, dan sibuk mengajak saya untuk mencari kerja di tempat lain. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri, dia masih terus saja begitu, bilang capek, bilang bosan, mengajak untuk kirim lamaran ke perusahaan lain, bertanya kepada saya apakah ada lowongan….tapi nggak melakukan apa-apa..sampai akhirnya saya benar2 keluar, bahkan sampai saat ini pun, dia masih saja melakukan hal yang sama; mengeluh, tapi tidak melakukan apa-apa.. saya yang tadinya semangat banget memotivasi, akhirnya menyerah. Rasanya sia-sia belaka..

Yang kedua, lebih bikin pengen nyakar tembok lagi. dia adalah perempuan yang agak minderan, alias ga percaya diri. Dia sudah hampir 3 tahun bekerja di sebuah galeri kecil sebagai admin. Sudah liburnya sedikit, gajinya sedikit juga. Pada suatu hari dia mengeluh bosan, pengen tantangan yang baru, pengen ada peningkatan dalam pekerjaannya. Dan dia bilang dia sangat ingin bekerja di Bali, bareng sama saudara2nya. Saking pengennya, dia sampai meluangkan waktu khusus untuk liburan ke Bali dengan tujuan melihat2 kemungkinan2 yang ada. Dia yang memang ahli dalam beberapa hal, nggak butuh waktu lama untuk mendapat pekerjaan baru. Hal ini dibuktikan ketika dia berkunjung ke tempat kerja saudaranya, dengan serta merta langsung ditawari untuk ikut bergabung menjadi staff di sana. Tapi dia menolak, alasannya: pengen sih, tapi mikir dulu. Tawaran kedua datang dari kantornya gembili yang memang lagi butuh staff keuangan. Semudah ini: kirim cv, interview, langsung masuk kerja. Tanpa mencari, tanpa menunggu. Saya yang sangat ingin melihat dia maju, langsung mati2an memotivasi dia siang malam. Meyakinkan bahwa dia nggak perlu takut sama bos seandainya dia tidak boleh keluar, meyakinkan bahwa dalam dunia kerja hal itu sudah biasa, meyakinkan bahwa di tempat baru nanti dia akan lebih banyak teman baru dan pengalaman baru, dia akan dapat banyak fasilitas, dan jika dia nggak betah, masih ada pilihan kedua bekerja di tempat saudaranya…semudah itu! jawabannya cuma ini: pengen sih…

Ketika dia akhirnya bilang : ‘iya, aku mau. Aku mau nyelesein pekerjaanku dulu, terus bilang ke bos, jadi bulan depan sudah bisa mulai kerja di Bali.’ Rasanya kayak abis menang undian, senengggg banget! yang terbayang kemudian adalah melihat dia di kantor baru, semangat baru, teman2 baru, dan wajah bahagianya karna bisa tinggal di Bali, dengan kehidupan yang lebih baik tentunya! ah, malah saya yang over gembira..secepatnya saya meminta dia mengirim cv untuk kemudian diproses sebulan. Awal bulan depan dia bisa pindah. Waktu itu akhir agustus. rencananya awal oktober dia pindah.

Pertengahan bulan september, saya kembali mengontak dia: gimana kerjaan? | ya, masih kayak gini aja, numpuk..hehehe | belum dihubungi sama HRD kantor X ya? | belum tuh.. | lha terus gimana persiapan pindahnya? | nggak tau..aku juga belum bilang sama bos.. | ….

Rasanya tulang2 saya kayak dilolosi dari badan. Rasanya kayak digampar. Kayak abis ditipu ratusan juta rupiah, kayak dipermalukan di depan umum. campur aduk. Setengah mati saya memotivasi dan meyakinkan, siang dan malam, ternyata sia-sia. Karna untuk bilang sama bosnya saja dia tidak berani..

Ternyata di dunia ini memang ada tipe orang yang seperti itu. Yang mempunyai keinginan tapi tidak mau (atau tidak berani) melangkah. Ada orang yang sudah kesakitan memakai sepatu, tapi nggak mau melepas karna takut kakinya kotor, padahal, kaki kotor kan bisa dengan mudah dicuci, dan menjadi bersih lagi. Yah sudahlah, kalau memang nggak mau, ya mau diapakan lagi, toh saya cuma urun menyemangati saja. Hanya saja, kalau nanti saya ketemu sama orang model begini lagi, sungguh saya nggak tau harus bagaimana…


3 responses to “Harus Bagaimana

%d bloggers like this: