5 cm The Movie di Mata Saya

5cm-edisi-final-poster-666x1024

Sebelum cerita tentang filmnya, saya akan cerita dulu tentang latar belakang saya sebelum nonton film ini. Yang pertama, saya belum baca novel 5cm. Yang saya tahu, novel itu bagus karena beberapa teman saya mengatakan demikian. Berkali-kali keluar masuk toko buku dan melihat novel itu tapi toh tak juga membuat saya tergerak untuk membelinya, meskipun di luar sana orang-orang ramai membahasnya. Beda lagi ketika saya mendengar bahwa novel ini akan difilmkan. Saya justru lebih antusias. Alasan demi alasan yang muncul semakin membuat saya ingin menontonnya; melihat posternya yang berlatar belakang gunung, mengetahui siapa yang berperan di dalamnya, plus tentu saja : kehebohan di twitter.😀 Akhirnya, ketika Komunitas Film Indonesia (@kofindo) yang bermarkas di Semarang membuka penawaran untuk nonton bareng premier film ini 12.12.12, saya langsung bergegas mendaftar.

Yang kedua, saya pernah naik gunung. Sudah lama. sekitar tahun 2002 saat masih SMA. Meskipun cuma gunung Ungaran dan enggak sampai puncak karna pas sampai pos terakhir saya sudah hipotermia duluan, setidaknya saya tahu apa dan gimana naik gunung itu. Itu adalah pengalaman pertama. Kenapa saya cerita tentang pengalaman naik gunung? Untuk menghindari komentar “halah belum pernah naik gunung aja sok sok komentar tentang film 5cm, tau apa kamu soal naik gunung?” di tulisan ini. hehehe!😛

Saya datang ke bioskop 2 jam lebih awal karena ada miskomunikasi sedikit sama kofindonya. Tapi nggak papalah, saya jadi punya waktu buat masuk toko buku dan beli novel Life of pi serta duduk mengamati. saya suka mengamati orang-orang.

Dari pengamatan saya, banyak sekali orang-orang yang suka naik gunung yang datang. Darimana saya tahu? dari gaya dan penampilan mereka. Darimana saya tahu kalo mereka yang punya gaya seperti itu adalah para pendaki gunung? Karena saya dari dulu suka mengamati. *rauwisuwis*. Oh ya, jika anda suka mengamati orang-orang seperti yang saya lakukan, pasti nanti lama-lama bisa membedakan sendiri kok, mana yang hobi naik gunung, mana yang hobi tenis, mana yang hobi basket, mana yang gadget freak, mana yang setia, dan mana yang playboy.. *eh*

Latar belakang sudah, sekarang filmnya. Mengecewakan. cerita yang melompat-lompat. Musik yang nggak pas karena kadang terlalu keras dan bising di saat adegan yang seharusnya mellow. Ucapan-ucapan dialog yang tak terdengar karna musik yang terlalu keras itu tadi, plus suara gelak tawa penonton yang sering banget bikin dialog jadi gak kedengeran. Entah apanya yang salah. Mungkin ketika bikin film seharusnya dipikirkan juga jeda antara dialog lucu sama adegan berikutnya. Entahlah, saya nggak paham soal teknis.

Maksa. Beberapa adegan dan dialog terlihat maksain banget. Nggak sampai klimaks. Karena ada beberapa adegan yang -entah gimana tau tau kok bisa jadi gitu, trus selanjutnya gimana nggak tahu-yang cukup mengganggu. Nggak alami. terutama pas adegan di gunung. Teman sebelah saya, @aldilatebeh saja sampai heran, masa iya masih cantik gitu padahal udah bersusah payah mendaki. “aku sering naik gunung mbak. Dan di setiap gunung pasti ada level kesulitannya, kayak rafting gitu. Semeru itu harusnya level 8. Tapi di film ini, semeru jadi tampak seolah-olah level 2 saja..” kata dia lagi. fyi, dia udah baca novel 5cm.

Saya lalu mengingat-ingat sendiri pengalaman saya pas naik gunung. Bener juga ya, waktu itu saya sampai pucat pasi. sampai telapak tangan hampir membiru, dan muka udah ga karuan banget. Sedangkan cewek-cewek di film ini, masih saja cantik sempurna. Sinetron banget. Mungkin karena film ini diproduksi sama rumah produksi yang sama dengan sinetron-sinetron di tipi (?).

Keluar dari bioskop, saya dan teman-teman lain saling bertukar pendapat tentang filmnya. Hampir semuanya bilang kalo filmnya biasa saja. Jauh dari harapan meskipun semuanya mengakui kalo pemandangan Ranu Kumbolo nya istimewa. Ketika saya mengeluh sama pacar kalo filmnya mengecewakan, dia balik tanya ” apa mungkin karna kamu abis nonton Life Of Pi jadi filmya terasa biasa aja? Film Indonesia yang terakhir kamu tonton apa?”

Sepanjang jalan pulang sampai sebelum tidur saya nggak berhenti berpikir. Saya mencoba menjawab pertanyaan pacar tadi. Apa mungkin karna abis nonton film Life Of Pi (yang menurut saya perfect banget)? jawabannya: tidak. karena meskipun bagus banget, tapi sekarang udah mulai habis euforianya. Nggak kayak seminggu pertama abis nonton. Film Indonesia yang terakhir kamu tonton apa? jawabannya: Langit ke7. Dengan bintang-bintang baru yang belum pernah akting, dengan pemandangan bawah laut yang cuma sebentar banget, bahkan lebih sebentar dibanding pemandangan semeru di 5cm. But still, masih tetep lebih bagus Langit ke7.

Setelah menjawab pertanyaan itu saya baru bisa memastikan bahwa pendapat saya tentang film 5cm ini nggak terpengaruh (tidak membandingkan) sama film2 sebelumnya yang saya tonton. Film 5cm harusnya bisa lebih spektakuler lagi daripada ini. Entah apanya yang salah. Dari skala 1-10, nilai saya 6. Sorry..🙂

tambahan : Saya sempat membaca postingan yang saya lupa sumbernya, mengatakan bahwa setelah selesai pembuatan film ini dikabarkan kondisi Semeru jadi tambah parah (kotornya) karena banyaknya pendaki yang tak bertanggung jawab dan membuang sampah seenaknya. Sungguh disayangkan banget. Banyak dari mereka yang mengaku pecinta alam tapi sebenarnya adalah cuma penikmat alam, bukan pecinta.


30 responses to “5 cm The Movie di Mata Saya

  • Fahmi

    okay, cuma 6 ya, well ada kurangnya si, tapi saya penasaran banget sama cinematografi landscape semeru *soalnya saya blom sampe situ, baru ada rencana naek ke semeru taun depan😀

  • aneg

    Mau baca review aja adehhhheeee prologe😀

    Aku belum nonton mba, tapi di twitter emang heboh banget dan biasanya laku walau filmnya jelek *istilahe ketipu brosur*

    Bisa jadi juga filmnya jadi jelek karna ekspektasi yang terlalu tinggi dari penonton akibat kehebohan yang ada di twitter

  • Yessi Greena

    kalau boleh jujur…beberapa kali nonton film Indonesia saya selalu kecewa. Rasanya seperti senggama tanpa klimaks.
    Tak heran kalau film -yang novelnya saya sukai ini juga bernasib sama.
    *digamparparasutradara*

  • Johanis Adityawan (@_masjo)

    kok gak bahas pevita pearce.. *berlalu*

  • emyou

    beda memang antara penikmat dan pecinta.. pas liat rumah produksinya emang udah ga yakin sih.. jadi berpikir ulang buat menontonnya. tengkyu ndaaaah…

  • okky

    Coba baca novelnya, ndah. Aku belum sampe 100 lembar udah tak tutup. Makanya penasaran sama filmnya.

  • pepeng

    postingan ini layak masuk serba selo…hahahha

  • Maharsi Wahyu K

    di goodreads novel ini banyak dapet cercaan dari pembacanya mbak. saya baca sih, bosen juga, tertarik bagian semerunya doang. kalo saya bilang, 5cm tuh berhasl menggali romantisme pendakian gunung dan menyentil nostalgia para pendaki akan kerinduan mereka terhadap Semeru.
    bagus di gambar doang. shot2nya cantik dan sangat nggetih. tapi ya stop di situ doang saya bisa nikmatinnya….
    yakin deh abis ini semeru jadi salah satu gunung teramai untuk pendakian. film ini emang ngajarin cinta indonesia, tapi ga ngajarin safety pendakian gunung yang baik dan benar. seakan2 naik semeru itu gampang banget. satu hal yang paling ngeganggu: carriernya keliatan kalo kosong! hahaha

  • oliph

    baru mau nonton malem ini, kok jadi ragu-ragu ya,….*termasuk yang jarang film Indonesia sebenere dan termasuk yang suka penasaran apalagi yang udah “heboh di twitter” duluan.
    punya novelnya dan blom kebaca sampe tuntas *dududu
    jadi, tetep nonton gak ya??? hmmm….

  • Tebeh

    Yang pertama naik gunung baru dua kali >,< hehehe level 8 dan 2 itu cuma perumpamaan aja kak, siapa tau ada yang beneran tau berapa level gunungnya hehe. Setuju nih sama yang ditulis di atas, going to make my own review🙂.

  • Hebohnya Film 5cm « oliphoph™

    […] itu saya dan Mauren sepakat buat nonton film 5cm ini. Meski habis baca blognya Mbandah dan ragu buat nonton, tapi tetep aja ditonton. Habis penasaran kayak gimana sih filmnya. Dan […]

  • ameeeeel

    kayaknya komen orang tentang film ini macem-macem ya…
    – yang nggak baca novelnya dan nggak pernah naik gunung, bilangnya bagus banget
    – yang suka naik gunung, bilangnya biasa aja
    – yang udah baca novelnya, bilangnya kecewa

    aku sendiri belom nonton… tapi novelnya favorit banget! hmmm… jadi penasaran…

  • Hendry

    film begini jadi best seller?
    seriously?

    kalau best title atau best quote, mungkin.
    Coba judulnya “5 sekawan”, mana ada yang mau nonton.

  • Dee

    gue juga heran, masa iya naek gunung tapi rambutnya nggak diiket? nggak risih apa tu rambut panjang nyampur sama keringet. Terus pas adegan mau naik ke mahameru, nggak ada cowo yang nanya ama cewek2nya kalo mereka mau ikutan naek juga ato nggak, karena setau gue Mahameru tuh susah banget didaki bahkan buat cowo yg udah sering daki sekalipun. Trus pas si dinda sama si gendutnya terluka, udah seolah2 meninggal pula, mrk tetep lanjutin perjalanan. Kalo gue sih bakalan langsung ngajak semua orang turun gunung biar lukanya bisa dirawat, daripada kenapa2. Serius deh, sepanjang film gue bawaannya pengen kabur dari bioskop, cuman karena cowok gue suka banget filmnya (dan bayarin gue tiket nonton) gue mesti tahan2in diri T_T, mau tidur di bioskop pun gak bisa karena musiknya menggelegar2 T_T

  • colemant

    Nice preview….
    Bagi saya sih ini film bagus banget.. dari segi “arti”-nya.
    Saya juga termasuk salah satu anggota pecinta alam di kampus.

    Memang betul banget ada beberapa hal yang harus dikoreksi, seperti safety procedure pendakian, jangan ngajarin orang bawa seadanya, bahkan adegan pakai api unggun, itu salah satu pantangan bagi saya sendiri.

    Tetapi mengenai cantiknya si para artis itu, hmm,.. itu relatif sih,… soalnya ada temenku, dia sekarang kerja jadi pramugari, dia itu cantik, bahkan sampai di atas semeru pun masih bersih, kebetulan pendakian waktu itu gerimis, jadinya ke puncak pasirnya agak enak di pijak, dan ga beterbangan.

    Semeru bagi saya adalah kedua terberat setelah Rinjani selama pendakian saya di Indonesia. Memang perasaan dari pendakian Semeru akan berbeda dengan pendakian pada umumnya.

    However, di film ini, bagi saya memberi arti yang sangat luar biasa, yaitu kita sebagai manusia harus mempunyai impian, dan gantungkan 5cm di depan kening anda. thats all.

  • yusuf

    hai mba…!!!
    thx untuk previewnya….
    saya jg kecewa dgn film ni..
    dri segi drama jg kurang menyentuh dan aneh…

    oia mba, aq mau nanya knp mba berpikir klo film life of pie itu perfect???
    menurutku aneh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: