Movie Review : Everest

everest 1

Lama juga ya nggak nulis movie review. Bukan karna males sih sebenernya, tapi lebih karna memang belum ada film yang bener-bener pengen direview. Film ‘bagus’ terakhir yang saya tonton sepertinya Cuma Whiplash yang menceritakan kisah seorang Drummer Jazz. Itupun saya nontonnya setelah Academy Awards bulan Februari kemaren, barengan nontonnya sama American Sniper & Birdman. Yap, saya emang suka gitu, cari tahu para pemenang piala Oscarnya dulu baru nonton filmnya. Hehehe😀

Film-film lain yang saya tonton setelahnya paling ya cuma beberapa, contohnya 1)Filosofi Kopi the Movie; karna saya ngefans sama penulis bukunya & penasaran sama kempen di IG, foto-fotonya bagus, fotografernya top, sutradaranya juga orang kreatif merangkap desainer yang keliatannya cukup punya ‘nama’, 2) Minions dan juga 3) Jurrasic World; yang nonton karna penasaran seperti apa pulau dinosaurus sekarang, setelah belasan tahun lamanya. Entah saya yang salah atau bagaimana, tapi tiga film tersebut terasa biasa saja. Cenderung membosankan malah.

Mission Impossible juga saya nggak nonton. Selain sedang bosen dengan tema agen rahasia, ‘pemandangan’ badannya om Tom yang sudah nggak seksi lagi di MI : Ghost Protocol juga bikin saya ilfil (serius!😀 ) dan kebawa sampe sekarang. Menurut saya, di dunia ‘dongeng’ seperti di dalam film di mana drakula bisa bercinta dengan manusia dan seorang wanita bisa lari-lari pake high heels padahal sedang bertaruh nyawa dikejar binatang purba, segala sesuatu harus serba sempurna tanpa cela, termasuk penampilan fisik para pemerannya. Saya mau nunggu ‘pemandangan’ nya om Daniel Craig saja ah nanti di Spectre😀

Everest muncul tepat di tengah kerinduan saya nonton film ‘bagus’. Bagus dalam banyak definisi, yang mungkin beda dengan definisi anda. Nggak papa, semua balik lagi soal selera.

Awalnya saya menganggap kalau film ini adalah film tentang para pendaki gunung biasa yang di tengah-tengahnya dibumbui drama percintaan sekaligus sedikit ketegangan karna ada kecelakaan saat pendakian. Sampai di situ, saya tetep pengen nonton sih, karna saya pikir pasti bakal seru kayak Vertical Limit yang dirilis 15 tahun yang lalu. Kemudian saya nonton trailernya di you tube. Di situ ada tulisan “Based on True Story”. Keinginan buat nonton semakin menjadi-jadi.

everest 2

Film dibuka dengan adegan perpisahan antara suami istri, Rob Hall (Jason Clarke) dan Jan Arnold yang sedang hamil (Keira Knightley) di bandara New Zealand. Hall bersama rombongan pergi ke Nepal, Tibet, untuk mendaki The highest mountain on earth, Everest. Tokoh yang tergabung dalam ekspedisi itu antara lain Jon Krakauer, jurnalis Outside Magazine yang bertugas untuk meliput seberapa besar pertumbuhan ekspedisi komersial di Everest, Yasuko Namba, seorang perempuan dari Jepang yang sudah mendaki 6 puncak gunung tertinggi di dunia, dan bertekad untuk mendaki puncak tertinggi ke tujuhnya di Everest (Seven Summits), Doug Hansen, seseorang yang bekerja mengantar surat (pos) yang mempunyai tujuan mulia : menginspirasi anak-anak dengan pendakiannya, serta Beck Weathers, seorang businessman kaya dari Texas.

Seperti pendakian gunung pada umumnya (kayak pernah naik gunung aja, Mbandah!😀 ), rombongan pendaki yang dipimpin oleh Rob Hall ini juga berhenti di pos-pos untuk beristirahat, mendapat pengarahan singkat, memeriksa stok oksigen, dan tentu saja, memeriksa kesehatan. Hall dan timnya optimis bisa mencapai puncak pada tanggal 10 Mei 1996. Namun apa yang dijalani memang kadang nggak semudah apa yang diomongkan. Apalagi kalau menyangkut alam serta cuaca yang nggak bisa ditebak. Rintangan sepanjang pendakian ndilalah ada aja, dari mulai gunung es yang longsor, stok oksigen yang banyak tapi penutupnya nggak bisa dibuka saking bekunya, tali yang belum terpasang, dan yang paling serem; badai besar yang datang tiba-tiba dan sangat cepat.

Lalu bagaimana ending dari film ini? Mending nonton sendiri ya, takut spoiler.😀

everest 3

Yang jelas, selama menonton film Everest ini, saya dibuat banyak melongo, antara takjub sama view Everest, takut, serem, ngeri (apa bedanya ya?), plus ngiler liat outdoor gear para pemain yang ganteng dan bewokan yang keren-keren. Jangan buru-buru keluar dari teater ya abis noton Everest, masih ada sedikit cerita di endingnya.

Abis nonton Everest, saya lalu browsing artikel tentang Everest Disaster 1996. Ternyata cerita tentang Rob Hall ini adalah tragedi besar yang terjadi di tahun tersebut. Parahnya, saya baru tahu sekarang. Mungkin karna tahun 1996 saya baru lahir, jadi masih belum paham benar😀

everest 4

Overall, film Everest ini seru banget buat ditonton, apalagi buat yang sudah tahu kejadiannya. Pastinya bakal lebih merinding lagi pas nonton. Cocok banget buat yang lagi bosen nonton film tembak-tembak an.😀

sumber gambar : google


5 responses to “Movie Review : Everest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: