Movie Review : La La Land

lalaland1

Saya suka musik, tapi saya tidak pernah suka sama yang namanya film musikal. Menurut saya, bercakap-cakap sambil nyanyi itu aneh. Apalagi kok pake dance. Apa nggak ngos2an tuh? Bercakap-cakap sambil nyanyi di mata saya cuma cocok buat film animasi atau kartun. Biar sekalian mustahil gitu 😀

lalu apa yang bikin saya akhirnya nonton La La Land, film musikal yang dibintangi oleh mbak Emma Stone sama mas Ryan Gosling ini?

Pertama, karena banyaknya Golden Globe award ( dan juga nominasi Academy award yang jumlahnya menyaingi jumlah nominasi film Titanic-rekor terbanyak yang pernah ada) yang diraih. Penasaran gitu critanya. Kedua, karena pembuat filmnya adalah orang yang sama dengan yang buat film Whiplash (Damien Chazelle). FYI, Whiplash (2014) adalah film tentang seorang drummer jazz yang menang banyak awards (googling sendiri ya  😀 ). Saya suka banget sama film Whiplash ini, dan karena yang bikin sama, jadi di pikiran saya,  La La Land ini bakal bagus juga. Ketiga, karena bercerita tentang pianis jazz, pastinya bakal banyak musik jazz di dalamnya. I love jazz!

jazz

Adegan pembuka sungguh ceria dan berwarna. I was thinking; ini pasti sengaja dancernya dipilihin baju yang warna warni. Perhatiin aja deh, ga ada warna putih atau hitam. Dan memang asik banget dilihatnya. Ternyata nggak cuma adegan pembuka aja, tapi hampir di sepanjang film kita disuguhi pemandangan berwarna warni, terutama wardrobe nya cewek-cewek.

La La Land bercerita tentang Sebastian Wilder dan Mia Dolan (Dolan ning ndi? 😀 ), seorang pianis jazz dan barista sebuah café, yang sama-sama sedang berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka; menjadi pianis jazz yang lebih hebat lagi agar bisa menyelamatkan musik jazz yang mulai meredup popularitasnya, serta menjadi seorang aktris Hollywood yang namanya terkenal di mana mana.

01-la-la-land4

adegan paling favorit karena view nya bagussss

Perjuangan meraih mimpi ini begitu membutakannya sampai teman-teman perempuan Mia dan juga ibu Sebastian jadi khawatir karena mereka berdua sampai nggak berpikir untuk cari pacar. Sementara Mia “digeret” teman-temannya untuk ikutan acara –acara pesta, Sebastian yang kagetan ini langsung ditodong ibunya untuk menghubungi seorang perempuan dan disuruh berkenalan. Ada satu dialog antara Sebastian dan ibunya yang saya suka dan inget banget yang intinya begini : Kalau aku kenalan sama cewek yang enggak suka Jazz, lalu kalau ketemuan mau bahas apa? Well, punya pasangan yang punya (at least satu) kegemaran yang sama memang lebih asyik. Ngobrol pun jadi lebih seru karena nyambung. Am I right? 😀

Singkat cerita, akhirnya mereka berdua bertemu, saling jatuh cinta, dan kemudian berjuang bersama-sama untuk meraih impian. Ada up and down, ada tawa dan air mata. Bagaimana dengan endingnya? Apakah berakhir bahagia? Tergantung dari sudut pandang mana anda melihat. Kalau menurut saya, endingnya sedih. Tapi kalo menurut si pacar, endingnya bahagia.

LLL d 12 _2353.NEF

Lalu, apakah film ini memang pantas dapat banyak penghargaan dan nominasi? Menurut saya : memang pantas. Tapi bukan untuk cerita atau storyboardnya karena cerita seperti ini bukan something new. Saya malah sempat bosan di beberapa adegan dan dialog terutama di awal pertemuan Sebastian dan Mia. I was like “more music please, I don’t need this”. Tapi untuk hal lain seperti akting kedua pemerannya (which I’m sure mereka pasti berlatih sangat keras untuk menyanyi, berdansa dan bermain piano), wardrobe yang warna warni, plus musik-musik jazz sepanjang film, saya akui memang istimewa. Untuk pertama kalinya, saya bisa menikmati menonton film drama musikal.

LA LA LAND (2016) Emma Stone as Mia

Dress nya cakep – cakep!

Inilah kenapa La La Land menang untuk kategori Best Actress , Best Actor, Best Motion Picture musical & comedy, Best Director, Best Original Score & Best Screenplay, tapi tidak menang apapun untuk kategori drama. Begitu juga untuk 12 Nominasi Oscar yang diraihnya, ngga ada satupun kategori drama yang didapat. Best Sound Editing, Best Sound Mixing  dan Best Original Music Score adalah beberapa di antaranya. Walaupun menurut saya karakter vokalnya Gosling enggak begitu masuk buat music jazz, tapi saya akui lagu-lagu di film ini bagus-bagus. Dua lagu favorit saya : City Of Stars & Another Day of Sun (sudah ada lengkap di Spotify! 😀 ).

City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
There’s so much that I can’t see
Who knows?
I felt it from the first embrace I shared with you

*meleleh

dance

Overall, film ini memang bagus, terutama buat kalian yang suka musik jazz. Kalo buat yang enggak suka musik jazz gimana? Tetep bagus, hanya saja mungkin nggak begitu menikmati secara keseluruhan. Dress dan sepatu-sepatunya Mia yang cakep-cakep itu mungkin bisa dijadikan fokus lain. Atau Ryan Gosling yang cool dengan penampilan yang selalu rapi dan klimis juga bisa dijadikan pengalih perhatian. Skor dari saya 8.5/10 untuk La La Land.

Advertisements

3 thoughts on “Movie Review : La La Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s